Kamis, 29 Mei 2014

ISRA' MI' RAJ: UJIAN BERAT



Keajaiban. Peristiwa Isra' Mi'raj memang merupakan ujian  berat bagi manusia beriman. Manusia diyakini sebagai makhluk rasional. Makhluk yang menggunakan rasionya untuk banyak keperluan. Mulai dari pemahaman sederhana, memecahkan masalah, sampai melakukan refleksi mendalam. Rasio yang merupakan anugerah Illahi memang harus digunakan manusia untuk mempertahankan dan memaknai hidup.

Saat mendengar khabar tentang Isra' Mi'raj, perjalanan malam Nabi Muhammad SAW melintasi waktu yang teramat sangat jauh dalam waktu amat singkat, bukan hal yang mengherankan bila ada yang bertanya, apa mungkin? Rasio atau akal pasti tergoda untuk mempertanyakan. Karena memang begitulah sifat alamiah atau kodrat akal.

Akal bekerja dalam kategori, klasifikasi, kelogisan, kaitan sebab akibat, dan cenderung menghubung-hubungkan, serta asyik dengan pengukuran dan akurasi. Perjalanan malam sangat cepat itu pastilah menimbulkan pertanyaan: mengendarai apa? Dalam kecepatan yang sangat tinggi apa Nabi tidak terganggu secara fisik dan psikis, apa perjalanan sangat cepat itu tidak menimbulkan pengaruh buruk pada Nabi, koq rasanya perjalanan itu tidak masuk akal?

Tidak mengherankan bila sejumlah filsuf Islam berkesimpulan bahwa Isra' Mi'raj itu adalah perjalanan yang sepenuhnya spiritual, sama sekali tidak melibatkan fisik. Simpulan ini dibuat karena sulit bagi mereka menerima dengan logika manusia bisa lakukan itu. Al Ghazali sangat keras membantah mereka.

Pada zaman moderen ini, sejumlah orang mencoba memanfaatkan teori relativitas Einstein untuk menjelaskan Isra' Mi'raj agar terlihat logis atau masuk akal. Tentulah semua upaya untuk membuat peristiwa ini masuk akal mesti dihargai. Namun, mungkin keasyikan untuk melakukan pembuktian itu melupakan satu hal yang sangat penting.

 Agama boleh dan bisa, juga selalu dipahami menggunakan akal. Tetapi hakikinya agama itu soal iman. Agaknya iman tidak selalu harus dikaitkan apalagi didasarkan pada akal. Meski penting, akal amat sangat terbatas. Karena itu, peristiwa Isra' Mi'raj sungguh merupakan ujian berat bagi iman.

Hanya iman yang bisa membenarkan peristiwa ini. Iman yang didasarkan pada rasa percaya total bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dalam semua agama pasti banyak peristiwa yang bukan saja tidak masuk akal, tetapi bertentangan dengan akal. Inilah mu'jizat atau keajaiban.

Di dalam Al Quran ada cerita tentang sejumlah anak muda yang tidur 300 dan 9 tahun. Jika kita tidak menerima cerita ini dengan keimanan, pastilah penjelasan apapun yang bersifat rasional dan keilmuan tidak bisa diterima. Karena peristiwa itu memang melanggar semua ketentuan dan hukum-hukum yang mengatur manusia dan kehidupannya.

Iman memang melampaui akal. Manusia beriman harus tahu bagaimana  menempatkan dan memfungsikan akalnya dengan tepat dan benar. Meski akal sangat membantu manusia memahami banyak hal, dan menjadi alat utama untuk membongkar misteri alam dan dirinya sendiri, akal memiliki sejumlah keterbatasan yang merupakan keniscayaan akibat keterbatasan manusia.

Modernitas memang telah memerangkap banyak manusia dalam penjara akal dan ilmu pengetahuan. Tidak sedikit manusia yang percaya bahwa akal dan ilmu adalah sumber kebenaran dan kepastian. Padahal hidup manusia yang panjang, sejak zaman dahulu sampai sekarang memberikan bukti tak terbantahkan tentang keterbatasan akal dan ilmu. Meski ilmu terus berkembang dengan percepatan yang sangat luar biasa.

Contoh yang paling dekat dengan kita sekarang adalah hilangnya pesawat Malaysia. Sejauh ini tak ada secuil pun penjelasan yang bisa diberikan. Semua info tentang pesawat itu lebih merupakan kira-kira dan spekulasi. Banyak fenomena alam, seperti bencana alam, berbagai kejadian misterius di Segitiga Bermuda, belum dapat dijelaskan dengan benar dan tepat. Sejumlah teori yang pernah dikemukakan hanya dapat menjelaskan secuil saja berbagai kejadian di tempat itu. Dan akhirnya teori-teori itu rontok berguguran.

Tak usah jauh, lihatlah diri kita sendiri. Apakah semua hal tentang manusia sudah dapat dijelaskan? Banyak penyakit yang menyerang manusia, bukan saja belum bisa diobati, penyebabnya pun belum bisa diidentifikasi. Apakah para ilmuwan sudah bisa menjelaskan fenomena kesadaran dan kematian dengan lengkap dan memuaskan?

Cermati di sekitar kita atau bayangkan bila orang yang sangat kita cintai direnggut maut. Apakah akal dan ilmu bisa menolong kita? Bahkan untuk menjelaskan mengapa dia yang dijemput maut. Apalagi jika ia sehat-sehat saja. Bila kita menghadapi kematian menggunakan akal, apa yang akan terjadi? Kita akan mencoba bertanya dan mempertanyakan. Mengapa dia? Mengapa sekarang? Mengapa dengan cara seperti ini? Mengapa bukan orang jahat yang ada di luar sana? Inilah sifat hakiki akal, merajangcincang, mengiris habis dengan kekuatan analisis yang tak mengenal tepi. Semakin  dipertanyakan , semakin tak mengerti kita. Akhirnya kita terperosok dalam gulita absurditas, ketakmengertian yang kelam. Ujungnya adalah frustrasi.

Menghadapi misteri kematian, apalagi bila yang mati adalah orang yang dicintai,  kita mengabaikan pemahaman akal. Bermain dengan hati. Bukan memahami dengan gaya analitis bagai seorang ahli yang menghadapi bangkai monyet di laboratorium untuk diurai dalam potongan-potongan tubuh sebagai uapaya mencari tahu. Tetapi berusaha untuk menyadari secara mendalam makna kematian dalam perspektif yang lebih holistik, yang melibatkan seluruh kemanusiaan kita. Akal  hanya menjadi bagian dari keholistikan kemanusiaan itu. Memang terasa berat, namun harus kita hadapi.

Begitulah kita menghadapi peristiwa Isra' Mi'raj. Kita harus mengabaikan pemahaman akal. Menggunakan kesadaran iman. Memang terasa berat, sebab kita sudah terlalu terikat dan terlanjur sangat percaya pada akal. Apakah ini bermakna bahwa kesadaran iman itu bertentangan dengan pemahaman akal? Pastilah tidak.

Kesadaran iman itu mengatasi atau melampaui pemahaman akal. Maknanya, kesadaran iman bisa memanfaatkan akal, namun bukanlah merupakan suatu keharusan. Ada kalanya pemahaman akal itu diperlukan. Tetapi ada saatnya pantas untuk diabaikan, justru untuk memasuki kedalaman penghayatan kesadaran.

Sebenarnya dalam praktik hidup sehari-hari, kita sering mengabaikan akal, justru dengan penuh kesadaran. Ingat kembali saat terayun tenggelam dalam cinta. Apakah saat itu kita lebih menikmati gejolak emosi atau melakukan telaah analitis kritis mengapa kita jatuh cinta, pada dia dan bukan orang lain? Apakah orang yang kita pilih memang merupakan orang terbaik menurut kriteria logis? Pun saat digerus emosi kemarahan, kita juga mengabaikan akal. Hakikinya, ada saatnya akal memang diabaikan. Dalam keindahan cinta, akal rasanya kurang bekerja.

Tanyakanlah pada seniman dan ilmuwan yang sedang asyik masyuk dalam indahnya penciptaan, nikmatnya pencarian dalam kreativitas yang mengalir deras. Apakah yang lebih dominan bekerja akal atau intuisi? Mulanya memang akallah yang memicu dan memacu, namun saat masuk dalam proses pencarian, penemuan, dan kreativitas penciptaan, akal biasanya makin terabaikan. Intuisi dan emosilah yang lebih dominan dan mengemuka.

Ini bermakna, pengabaian akal bukanlah tindakan yang remeh dan rendah. Pengabaian akal merupakan bagian dari cara berada yang spesifik, yang memungkinkan kita untuk masuk lebih intens ke dalam hakikat segala sesuatu. Kita mengalir dan terhanyut di dalamnya.

Artinya, bila manusia lebih mendahulukan pentinngnya kesadaran iman tinimbang pemahaman akal, tidaklah bermakna ia tidak mampu memanfaatkan akal secara maksimal. Tetapi lebih pada pengakuan jujur bahwa akal memiliki sejumlah keterbatasan yang melekat erat dalam keterbatasan manusia. Kesadaran iman dengan demikian memang melampaui pemahaman akal.

Dalam semua agama, akhirnya manusia lebih sering diuji kesadaran imannya. Pastilah ini ujian yang berat. Dia harus memilih menerima dengan kesadaran iman yang tulus, atau berada terus dalam keraguan karena akal meragukannya. Orang beriman memilih menundukkan akalnya dan menegaktinggikan  kesadaran iman.

Isra' Mi'raj membawa pesan utama kewajiban shalat. Ternyata shalat juga merupakan cobaan yang berat bagi kebanyakan manusia, sebagaimana peristiwa Isra' Mi' raj itu sendiri. Karena itu di dalam Al Quran dikatakan bahwa shalat itu merupakan kewajiban yang berat, kecuali bagi orang-orang yang ikhlas dan konsisten. Mengapa?

Kewajiban shalat yang tertata jelas aturan waktunya pastilah mengharuskan kita mengabaikan banyak hal. Saat  terlelap tidur, kita harus segera bangun, mengabaikan rasa kantuk dan nikmatnya kenyenyakan tidur. Saat asyik dalam pekerjaan atau aktivitas lain pada siang dan sore hari, kita harus mengabaikan semuanya untuk shalat zhuhur dan ashar. Pada kala masih fokus dengan sisa pekerjaan atau bertemu orang atau sedang dalam perjalanan pulang kerja, apapun keadaannya, kita harus mengabaikan segalanya untuk shalat maghrib. Ketika asyik menonton televisi atau saat kantuk mulai hadir, kita mesti mengabaikan segalanya untuk laksanakan shalat isya. Shalat memang mengharuskan kita mengabaikan apapun bila waktunya telah tiba. Ini sangat tidak mudah. Apalagi dalam hidup keseharian, kita sering berada dalam situasi dilemmatis, mengerjakan sesuatu yang terbatas waktunya atau segera lakukan shalat.
Selain mengharuskan kita mengabaikan apapun juga demi shalat, adalagi yang tak kalah penting. Yaitu gerakan simbolik tentang penempatan kepala, tempat otak yaitu pusat kesadaran dan akal kita berada.

Saat berdiri kepala kita berada di atas. Saat tunduk yaitu rukuk, kepala kita berada sejajar dengan hati dan pantat. Ketika menyembah yaitu sujud, kepala kita berada di bawah hati dan pantat. Apakah gerakan ini tidak memiliki makna?

Gerakan shalat menunjuktegaskan bagaimana kita seharusnya memberi tempat yang tepat bagi akal. Ada kalanya akal kita dahulukan dan tinggikan. Ada saatnya pemahaman dan pertimbangan akal juga mesti sangat memperhatikan sentuhan nurani. Dan ada waktunya akal itu harus tunduk total. Yaitu saat kita tunduk patuh dalam posisi sebagai makhluk yang sujud pada Allah. Ini bermakna pemahaman akal mesti tunduk pada kesadaran iman. Perhatikan dengan seksama. Saat shalat
mana yang lebih banyak jumlahnya, kepala di atas atau kepala di bawah pantat saat sujud? Jumlah sujud pasti lebih banyak. Dalam tiap rakaat kita berdiri satu kali, rukuk satu kali dan sujud dua kali. Jumlah sujud kita ternyata lebih banyak. Penjumlahan berdiri tegak dan rukuk sama dengan jumlah sujud. Apa gerakan ini tidak bermakna apa-apa?

KETUNDUKAN PEMAHAMAN AKAL PADA KESADARAN IMAN, MERUPAKAN KENISCAYAAN.












1 komentar:

  1. Assalamualaikum, iya pak nusa saya sangat setuju dengan tulisan ini, yang pada intinya memberikan sebuah pertanyaan mendasar "apakah guna akal tanpa iman?"
    manusia sebagai makhluk yang wajar dengan segala ketidaksempurnaan, sudah seharusnya bersyukur kepada Sang Penciptanya karena telah diberikan dua hal tersebut "akal dan iman". dengan akal, manusia dapat menilai mana yang baik dan mana yang keliru. dengan iman, manusia dapat memaknai apakah yang ada dibalik nilai benar itu dan apakah yang ada dibalik nilai keliru itu. hanya tinggal bagaimana manusia itu sendiri mengelola akal dan imannya agar berjalan berimbang sesuai ajaran agamanya. jika akal mengalahkan iman, maka manusia akan berantakan. jika iman mengalahkan akal, maka manusia tidak akan berkembang. mungkin itu pak menurut saya hehe, makasih pak

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd