Sabtu, 03 Mei 2014

MARAH (3)

Kala Nabi Ibrahim menghancurkan berhala apakah ia lakukan tanpa rasa marah? Setelah bekerja keras dalam jangka waktu yang sangat panjang untuk menyampaikan kebenaran yang datang dari Allah, orang-orang tetap tak menggubris. Apakah Nabi Nuh tidak marah, sedih atau kesal? Apakah ketika pergi meninggalkan kaumnya, Nabi Yunus tidak sedang marah? Apa yang menyebabkan Nabi Musa membunuh orang? Bagaimana perasaan Nabi Muhammad SAW saat mendengar khabar Hamzah dibunuh dan jantungnya diambil? Bagaimana pula perasaannya saat memimpin perang melawan kaum kafir Mekkah yang sangat bersemangat mau hancurkan Islam dan membunuh umat Islam?

Tak ada manusia, siapa pun dia, yang bisa bebas dari bekerjanya fungsi-fungsi emosi. Emosi dalam segala fungsi dan bentuknya melekat erat dalam kemanusiaan kita. Karena itu kita semua pernah gembira, bahagia, sedih, kesal, marah, jatuh cinta, sakit hati, takut, khawatir dan was-was.

Emosi itu berfungsi menjaga hidup kita. Menjaga kita tetap seimbang, agar semua yang menghentak, membakar, dan menggetarkan bisa tetap dirasakan. Bayangkan bila ada kesedihan sangat mendalam dan kita bertahan tidak menangis. Penelitian menegaskan, situasi seperti itu bisa merusak jantung. Karena itu bila memang ingin atau harus menangis, segeralah menangis. Jangan ragu dan malu.

Bila sedang menikmati permainan ekstrim yang membuat kita mengalami hempasan seperti jet coaster, kita diwajibkan berteriak untuk melepaskan tekanan emosi. Bila tidak, jantung akan terancam bahaya. Tak ada larangan untuk berteriak dalam tempat dan konteks yang tepat. Emosi memang harus diungkapkan, akan menyehatkan.

Sekarang ini, di seluruh dunia telah berkembang ratusan ribu klub tawa. Orang-orang berkumpul hanya untuk tertawa. Mentertawakan apa saja, termasuk mentertawakan orang yang sedang tertawa. Sudah dibenarkan oleh berbagai penelitian, bahwa tertawa itu sangat menyehatkan, jiwa dan raga.

Menangis, senyum, tertawa, dan marah merupakan bagian penting dalam hidup kita. Semua manusia, tanpa kecuali pernah mengalaminya. Semua fungsi emosi itu menegaskan kemanusiaan kita. Tanpa emosi itu kita hanya seonggok daging atau hanya robot.

Emosi memang sangat berguna bagi hidup. Emosi adalah bahan bakar bagi fikiran atau rasio. Emosi sangat memengaruhi kualitas fikiran kita. Jika sedang semangat dan gembira, fikiran gampang fokus dan mudah mengingat. Bila sedih, fikiran seperti macet, tak berfungsi.

Emosi memang berguna, sangat berguna. Kemarahan ibu dan ayah bukankah sangat berguna bagi perkembangan anak-anak. Normalnya, kemarahan ibu-ayah dilandasi perhatian, kasih sayang dan cinta. Kecuali bila ibu-ayah yang alami gangguan kesehatan jiwa. Kemarahannya bisa jadi berupa kekerasan yang menghancurkan sang anak.

Kemarahan atasan pada bawahan, komandan pada prajurit, guru pada murid adalah kemarahan yang bermaksud mengarahkan dan memperbaiki. Marah bisa dan sering dijadikan sebagai alat untuk mendorong perbaikan. Karena itu kita tidak dapat main pukul rata menyimpulkan semua kemarahan itu jelek dan pasti menghancurkan.

Bila ada kemarahan muncul, kita harus bertanya siapa yang marah pada siapa? Apa penyebabnya? Bagaimana konteks kejadiannya? Apa tujuannya? Dengan demikian kita tidak buru-buru dan dengan mudah menyimpulkan bahwa orang marah itu tidak baik, kemarahan itu pasti jelek.

Kemarahan seorang diktator kejam seperti Hitler pastilah tidak sama dengan kemarahan pemimpin yang adil seperti Harun Al Rasyid. Siapa yang marah, apa motif dan tujuannya bisa membuat kemarahan menjadi berbeda sama sekali.

Orang-orang baik, bisa dan biasa marah pada ketidakbaikan atau kejahatan, dan kecurangan. Orang-orang yang adil bisa sangat marah pada praktik ketidakadilan dan diskriminasi.

Itulah sebabnya kemarahan bisa menjadi kontrol bagi apapun yang tidak pada tempatnya, tidak seharusnya, pelanggaran aturan, dan banyak tindak jekahatan lainnya. Dalam kaitan ini merupakan kewajaran bila kemarahan harus ditunjukkan dalam bentuk aslinya.

Dalam konteks ini pula kita bisa berdiskusi tentang kemarahan yang proporsional dan tidak proporsional, yang wajar dan berlebihan, yang memperbaiki dan yang menghancurkan. Hakikinya kemarahan memang tidak bisa disedehanakan dalam satu bentuk dan secara sembarangan disimpulkan pasti tidak baik, dan pasti merusak.

Kemarahan pada kezhaliman, kekejaman, dan kebiadaban penjajah yang membuat kita merdeka. Kemarahan pada praktik kekuasaan diktator otoriter orde baru yang melahirkan reformasi.

KEMARAHAN MERUPAKAN TANDA KEMANUSIAAN YANG PENTING, TIDAK SELALU BURUK DAN MENGHANCURKAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd