Bali pasti berbeda dari Mekkah. Orang datang ke Bali untuk pariwisata, berlibur, bersenang-senang. Bali menyediakan banyak ragam pariwisata. Pariwisata alam berupa laut, gunung, danau dan perkampungan tradisional yang masih asri. Juga wisata moderen berupa semua bentuk hiburan mulai dari cafe sampai club gay. Tak ketinggalan wisata kuliner.
Pantai-pantai di Bali dipenuhi ombak tinggi sepanjang waktu. Tentulah kondisi ini menjadi syurga bagi perselancar. Di Kuta dan Legian semua hiburan eksotis tak kenal waktu. Para wisatawan bisa berpetualang mengunjungi banyak tempat eksotis seperti Tanah Lot.
Orang bebas, bahkan hanya mengenakan kutang dan kancut seadanya jika berjemur di pantai, dan keliling Bali dengan pakaian seksi. Gaya seksi seperti itulah yang diperlihatkan sebagaian besar turis asing di seluruh Bali. Bali memang menyediakan kebebasan, kegembiraan, dan kenyamanan.
Banyakanya pilihan wisata membuat Bali tak pernah sepi. Bali juga menyediakan wisata religi. Saat ada ngaben besar atau upacara keagamaan lain yang memang sangat unik. Di Bali, religi, seni dan budaya menyatu. Pastilah kondisi ini makin memperkaya Bali.
Beda dengan Mekkah. Orang datang ke Mekkah untuk beribadah. Haji atau umrah. Karena berniat ibadah, maka tujuan utama adalah Mekkah dan Madinah serta tempat-tempat yang telah ditentukan. Suasananya pastilah banyak berbeda.
Namun, ada satu kesamaan antara Bali dan Mekkah. Bila kita berjalan di bagian luar Masjidil Haram ada banyak kesamaan dengan sekitar Kuta dan Legian. Nama-nama hotel dan restonya sama. Yang tidak ada di Mekkah hanya Hard Rock Cafe.
Bali dan Mekkah sama-sama dikuasai dan diramaikan oleh kapitalis yang sama. Pemilik jaringan hotel dan restoran di seluruh dunia. Bagi sang kapitalis tidaklah penting Anda beribadah atau berlibur. Anda membutuhkan hal yang sama, tempat tidur dan tempat makan, tentu sekaligus dengan makanannya.
Beribadah atau berlibur, Anda sama-sama mengeluarkan uang. Kapitalis tidak peduli dengan niat dan tindakan Anda. Kapitalis peduli dengan duit Anda. Mereka mau mengorek keuntungan dari dompet dan saku Anda. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang.
Kapitalisme tidak pernah peduli, apakah Anda Islam atau Hindu, Budha atau Kristen. Beragama atau ateis. Hetero atau homoseks. Lelaki atau perempuan. Kapitalis hanya peduli pada uang Anda.
Marx benar ketika beberapa abad lalu menulis dalam Manifesto Komunis bahwa kapitalisme akan menggurita. Menjerat, mengangkangi dan menguasai dunia. Kini kita menyebutnya globalisasi. Marx tidak salah saat menegaskan bahwa kapitalis akan melakukan apapun untuk mengeruk habis keuntungan, kapan dan di mana pun. Ramalan Marx tentang hari depan komunisme salah. Tetapi ramalannya tentang kapitalisme yang menggurita dan mengglobal dan menguasai dunia, sama sekali tepat akurat.
KapItalisme bukan saja menentukan dan menguasai selera makan dan bagaimana kita tidur. Juga memengaruhi dan mengintervensi mimpi-mimpi kita.
Kapitalisme berhasil memanfaatkan teknologi untuk semakin menjajah kita. Itulah hebatnya kapitalisme. Ia bisa membuat orang di seluruh dunia suka bahkan tergantung pada menu makanan dan minuman yang sama.
Perhatikanlah apa yang dimakan orang di Mekkah dan di Bali. Ada bahkan banyak yang sama. Dahsyat memang, kita sama-sama melihat nama bahkan pilihan model huruf, serta warna yang sama pada hotel-hotel dan resto-resto di Bali dan Mekkah.
SUNGGUH KAPITALISME TAK PEDULI PADA APAPUN SELAIN KEUNTUNGAN.
miris sekali sebenarnya di negara yang mayoritas muslim, faham kapitalisme berkembang pesat, mungkin juga faham kapitalis dan sejenisnya sudah mendarah daging di negeri ini, jika dibiarkan, moral moral kegamaan bisa aja hilang -Wildan wiratmoko
BalasHapusNama : Khairun Nikmal Baiti
BalasHapusNim : 4915144082
Prodi : P.IPS B 2014
Assalamu'alaikum wr. wb. Menurut saya memang benar kaum kapitalis makin menyeruak di dunia dan membahayakan produk atau jasa lokal tetapi mereka tidak salah karena memang tujuan mereka yang ingin menguasai dunia yang salah satunya lewat perekonomian. Seperti yang kita tahu bahwa kaum kapitalis didominasi oleh orang-orang Yahudi yang ingin menguasai dunia lewat perekonomian tadi. Jadi, hanya kreatifitas dan usaha maksimal agar produk dan jasa lokal dapat bersaing dengan kaum kapitalis tersebut.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Nama : Joddy Hermawan
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
No Reg: 4915142810
menurut saya dari tulisan bapak sepertinya bapak menjatuhkan sistem kapitalis, tetapi saya juga setuju bahwa kapitalis hanya menginginkan untung sebesar2nya . kapitalis biasanyakan pihak swasta yang punya yapak, kenapa pemerintah tidak mengintervensi pasar tersebut guna mendapat keuntungan bersama ? mohon maaf selebihnya jika ada perkataan yang menyinggung .
Viddyaningsih
BalasHapusP IPS A 2014
4915141029
Ass pak nusa . Kapitalis identik dengan dunia barat, dunia yang makmur namun tak semua kemakmurannya itu diseimbangi dengan akhlak yang baik, kebanyakan dunia barat memang seperti itu bebas dan terkesan hura hura , hal yang sudah menjadi kewajaran dimata dunia global. Namun jika membicarakan kapitalis pada era sekarang pun lebih wah lagi apalagi sekarang uang dijadikan periotas pertama untuk segalnya , dengan uang apapun bisa jadi entah dengan cara yang halal ataupun yang haram.Maka dari itu kita harus bisa menyaring kebudayaan kapitalis tersebut dan mampu beradapatasi untuk didunia kapitalis tersebut .
Nama : Sandra Puspita Sari
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
No.reg : 4915144094
Assalamu'alaikum pak. Saya setuju dengan tulisan bapak diatas bahwa kapitalisme tidak memperdulikan apapun selain keuntungan. Disitulah masyarakat di uji akan pengaruh globalisasi. Bagi masyarakat yang tidak bisa selektif akan globalisasi, maka akan terpengaruh dan mengikuti arus globalisasi dan larut didalamnya. Jika hal tersebut terjadi maka secara tidak langsung sudah terjadi penjajahan melalui tehnologi, dan melalui aspek lain. Hal tersebut adalah salahsatu penyebab negara dan bangsa sulit untuk maju dikarenakan ketergantungan.
Pertanyaan :
1. Bagaimana menurut bapak agar bangsa ini tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif akibat dari globalisasi ?
2. Apakah kurangnya pengetahuan dan pendidikan salahsatu penyebab bangsa ini mudah terpengaruh dengan hal hal negatif akibat globalisasi ?
Terimakasih
Nama : taufik hidayatulloh
BalasHapusKelas : P.IPS
NIM : 4915145638
kapitalisme mengasosiasikannya dengan kesenjangan sosial dan distribusi yang tidak adil dari kekayaan dan kekuasaan; kecenderungan monopoli pasar atau oligopoli (dan pemerintah oleh oligarki), imperialisme, perang kontra-revolusioner dan berbagai bentuk eksploitasi ekonomi dan budaya; materialisme, represi pekerja dan anggota serikat buruh, alienasi sosial, kesenjangan ekonomi, pengangguran, dan ketidakstabilan ekonomi. Hak milik pribadi juga telah dikaitkan dengan tragedi anticommons.
sebenranya paham seperti ini jangan diterapkan dikota mekah yang menyandang status negeri untuk beribadah bagi umat islam,karena paham ini bisa mencoret nama baik yang di sandang kota tersebut lagi pula paham ini menjelaskan yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan terpuruk.
Kapitalisme memang sudah merajai, khususnya perekonomian di dunia. keuntungan adalah faktor utama yang dicapainya tidak memikirkan yang lain kecuali keuntungan. Jika kita tidak selektif dalam menerimanya, secara tidak langsung kita terjajah. Maka dari itu kita sebagai masyarakat lokal harus berkuasa khusunya di negara sendiri tidak selalu memiliki sifat ketergantungan terhadap kapitalisme.
BalasHapusSri Rahayu
P IPS A 2014
Assalamualaikum wr wb.
BalasHapusBali dan Mekkah adalah 2 tempat yang paling banyak dan ingin dikunjungi banyak orang. tetapi kalo Bali adalah tempat wisata yang berada di Indonesia yang menawarkan sejuta keindahan pantainya sedangkan Mekkah adalah tempat yang ingin dikunjungi oleh umat Islam termasuk saya. banyak orang yang rajin menabung untuk berkunjung ke dua tempat tersebut. saya memandang kasus tersebut dengan setuju atau tidak setuju. banyak pengusaha yang menawarkan fasilitas di tempat itu mereka juga mengambil keuntungan karena banyaknya turis (Bali) atau Tamu Allah (Mekkah) saya mengambil kesimpulan bahwa antara pengusaha dan yang mengujungi 2 tempat tersebut saling menguntungkan satu sama lainnya.
terimakasih
Wassalamualaikum wr wb.
Yetty Imayanti
P IPS A 2014
4915141036
Hesti Mardiana
BalasHapusP.ips A 2014
49151039
Saya sependapat dengan bpk bahwa kapitalisme telah meruak didunia ini. Kapitalisme tdk peduli agama apa yg kita ikuti. Kapitalis hanya ingon mengorek keubtungan saja, tak lebih dan tak kurang. Sungguh menyedihka n diindonesia ini yg mayoritas muslim justru kapitaliame berkembang pesat yang dpt mengakibatkan hilangnya nilai2 keagamaan. Untuk itu kita harus pandai2 dlm menyaring budaya kapitalisme yg meruak saat ini.
Nadea Uzmah
BalasHapusP.IPS B 2014
Assalam'alaikum wr. wb
Saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa kaum kapitalisme tidak peduli pada apapun selain keuntungan. Para kapitalis memang hanya memikirkan keuntungan. Tetapi karena kapitalisme, sarana dan fasilitas yang kita butuhkan dapat kita peroleh seperti makanan, tempat tinggal dan lainnya. Jadi, menurut saya kapitalisme bukan hanya mengambil keuntungan tetapi juga kapitalisme dapat menguntungkan bagi kita.
Kaum kapitalis memang sangat mencari keuntungan terutama dalam bidang perekonomian. Kaum kapitalis biasanya dipegang oleh pihak swasta, mereka mengeksploitasi sumber daya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Namun jika sumber daya sudah habis mereka bisa apa? Pastinya kita sebagai konsumen akan kembali pada pemerintah atau badan usaha milik negara untuk memenuhi kebutuhan yang tak bisa dipenuhi oleh pihak swasta tersebut.
BalasHapusTriyani Ambar Sari P.IPS B 2014
Nama : Dwi Putri Yulianti
BalasHapusKelas : P.IPS B 2014
Saya setuju dengan tulisan bapak diatas bahwa KAPITALISME TAK PEDULI PADA APAPUN SELAIN KEUNTUNGAN. Menurut saya wajar saja bila di daerah Bali sudah banyak kaum kapitalisme karena di Bali sudah banyak dijajaki oleh para turis mancanegara yang di negaranya sudah menggunakan sistem tersebut.Tetapi kurang wajar saja bila para kapitalis mengambil keuntungan di Kota Mekkah yang notabene-nya kota untuk beribadah umat islam. Maka dari itu agar sistem tersebut tidak terlalu menyeruak di negara Indonesia, kita harus mempertahankan budaya-budaya yang berada di Indonesia karena kebudayaan tersebut akan menghasilkan suatu produk yang berbeda dan dapat bersaing dengan negara-negara kapitalis yang lain.
Well, sungguh bangga kita sebagai bangsa Indonesia memiliki Bali. Pulau eksotis, khayalan yang nyata bagi seluruh penikmat wisata. Bahkan seperti sudah hal yang wajib bagi para wisatawan seantreo dunia untuk mengunjungi Bali sekali dalam hidupanya.
BalasHapusSaya sungguh mengapresiasi Bali tentang bagaimana sebuah suguhan wisata alam, kebudayaan, dan kehidupan religi masyarakatnya bisa menjadi satu kesatuan hal yang magis yang bisa menarik orang-orang untuk berkunjung. Lagi dan lagi. Jarang sekali ada pengelolaan yang baik seperti ini di negeri kita, Indonesia. Bahkan saking terkenalnya Bali ke seluruh dunia, mereka tidak tau Bali itu sebenarnya ada dimana, di negara yang mana. Poin minus untuk gagalnya pemasaran wisata oleh pemerintah dengan kata “Indonesia” . Tapi itu tak perlu terlalu dipusingkan.
Saya pernah berfikir, sampai kapan Bali akan berjaya? Tetap hidup dalam tiap-tiap jiwa yang mengunjunginya bahkan sampai yang belum mengunjunginya. Bali bukanlah tempat ibadah. Tempat yang selalu ramai oleh orang-orang yang bersujud pada Tuhannya. Bali lebih dekat dengan sebutan “tempat hiburan”,’tempat hura-hura” tempat dimana kaum hedonis melampiaskan seluruh jiwa raganya untuk bersenang-senang. Tempat yang mana tak ada lagi perbedaan siapa kita. Yang terpenting disana hanyalah “uang kita”.
TITA NURMALA –P.IPS B 2014
4915144096
Rovida Amalia Mazid
BalasHapusP.IPS.A.2014
4915141032
saya setuju dengan tulisan bapa, menurut saya kapitalis merupakan suatu pembodohan bagi kita, sifat manusia yamg masih sangat ketergantungan oleh sistem kapitalis, memang bali dan mekkah adalah dua perbedaan yang sangat bertolak belakang,negara indonesia khususnya bali, sudah banyak sekali budaya-budaya asing atau budaya barat yang masuk di indonesia bahkan hampir punahnya kelunturan budaya yang asli, justru terbalik dengan budaya timur arab sudi, yang terkenal dengan kota mekkah yang menjadi sumber peribadatan umat islam
Miftahul Falah
BalasHapusP.IPS B 2014
4915142807
Kapitalisme mewabah di manapun berada. Dari tempat prostitusi hingga tempat yang paling suci. Semua sistem ini dilakukan demi merauk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara apapun. Tidak mengenal haram atau halal. Kapitalisme juga tidak melihat ras, suku, bangsa, negara maupun agama. Semua sama tidak ada bedanya.
Hanifan Pratama Sonata
BalasHapus4915144112
Kapitalisme memang sudah meggurita sejak dulu. Hal yang menyedihkan adalah bangsa kita amat sangat "tunduk" dengan kapitalisme. Sebagai contoh ibukota kita yaitu jakarta. Di jakarta, Remaja adalah target utama dari sistem kapitalisme ini. banyak dari mereka lebih menyukai produk yang berbau "kebarat-baratan". "Gak gaul kalo gak makan dan belanja di mal" begitu kata mereka. begitu berpengaruhnya kapitalisme di ibukota kita ini. Hingga merubah 'mindset' masyarakat kita. Hal ini diperburuk dengan sifat dasar masyarakat indonesia yang menurut saya menujukan konsumerisme, Besar pasak dari pada tiang. Sebenarnya kita sangat amat mungkin menjadi negara produsen, tetapi kita sendirilah yang membuat kita menjadi bangsa konsumen. pola pikir kita harus diubah demi negara tercinta kita ini, INDONESIA.
Chairul saleh
BalasHapusPIPS B 2014
Menurut saya kaum kapitalis memang membahayakan bagi sistem perekonomian dalam negri kita karna mereka hanya memikirkan keuntungan dari produk yang mereka jual di negara kita,dan mungkin mereka ingin menguasai negara kita dalam bidang prekonomian,seharusnya masyarakat indonesia harus lebih peduli akan peristiwa ini,dan mampu menciptakan produk-produk yang bisa bersaing dengan produk asing
Benar pak, memang kita secara tanpa sadar telah dikuasai kapitalis dalam hal tersebut. Segala niatan tidak dipedulikan, segala bentuk dan tujuan pun tidak dihiraukan. Keuangan kitalah yang diharapkan. Itulah bentuk umum dalam arti mereka tidak memandang. Tapi kita lah yang harus menjaga niatan kita agar tidak melenceng dan mengikuti arus arus maksiat. Perubahan kecil bisa berdampak besar dimuali dari niatan kita
BalasHapusBegitulah cara bangsa barat yang sedikit demi sedikit menyelinap dan masuk ke dalam kehidupan kita . Tanpa di sadari kita sudah terpengaruh budaya barat tersebut. Pada zaman sekarang ini agar tidak terpengaruh dengan budaya barat , kita harus selektif dan kritis dalam menanggapinya.
BalasHapusDalam berbisnis memang dibutuhkan kreatifitas untuk mengembangkan usahanya. Inilah yang mereka manfaatkan untuk itu, yaitu mendirikan tempat dimana usaha tersebut akan ramai dan orang orang butuhkan. Tak lain adalah tempat berlibur dan juga tempat beribadah. Para pebisnis ini tak bisa disalahkan malahan mereja memberi kemudahan para wisatawan atau jemaah untuk mendapatkan akses tertentu. Namun yang dicemaskan adalah adanya produk luar akibat adanya kapitalisme dan globalisasi yang mengalahkan produk loka, ini disebabkan karena warga lokal tidak berfikir lebih maju daripada warga asing.
BalasHapusShabrina Sekar Arum S. P.IPS B 2014
Nama saya ade nur hasanah
BalasHapusJurusan P.IPS B
No reg 4915142814
Menurut saya tulisan bapak benar, Bali merupakan tempat hiburan, tempat dimana orang orang melepaskan penatnya sedangkan mekah merupakan tempat beribadah. Kedua nya memang menganut sistem kapitalis. Dimana kapitalis itu menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara apapun tanpa mempedulikan tujuan awalnya. Sehingga di Bali ataupun Mekah tanpa melihat tujuan masing masing manusia ke tempat tersebut . Inti yang di ambil adalah keuntungan untuk para pemilik modal sesuai kritik Karl Marx terhadap kapitalisme.
Terimakasih..
Annisaa Intan S
BalasHapusP.ips A 2014
4915141041
Saya setuju dengan tulisan bapak kapitalisme memang menginginkan banyak keuntungan, tetapi yang lebih menyedihkan kapitalisme sudah berkembang pesat dinegara ini padahal negara ini adalah negara demokrasi. Tetapi ada sisi positif dibalik kepitalisme yaitu semakin besar perusahaan yang dibangun pengusaha semakin besar pula pajak yang harus mereka setor kepemerintah untuk menjadi anggaran negara dan dana ity disalurkan untuk kalangan tidak mampu.
Menurut saya kapitalisme adalah orang-orang kejam yang tidak memikirkan nasib orang lain. Disisi lain mereka hanya memikirkan keuntungan tetapi tidak memikirkan yang lainnya. Bali dan Mekkah adalah tempat yang sudah terkenal di dunia,orang ke bali karna ingin memuaskan rasa jasmani atau liburan kesana karna tempatnya yang bagus dan menawan. Sedangkan ke mekkah ingin memuaskan rasa rohani kepada allah SWT. Disinilah perbedaan yang mendasar,di bali pakaiannya bebas sekali walaupun bebas tetapi satu sama lain tetap saling menghormati beda dengan di mekkah mereka berpakain seluruh badan tertutup tanpa ada yang kelihatan mereka juga tetap saling menghormati dan tetap pada tujuan awal adalah ibadah yang insya allah mendapatkan pahala. Terima Kasih ( Mega Sukmawati P.IPS A 2014)
BalasHapusWindarti
BalasHapusP.IPS B 2014
4915142816
Saya setuju dengan tulisan bapak, kaum kapitalis tak peduli apapun selain keuntungan. kaum kapitalis memikirkan kebutuhan pada umumnya mulai dari kebutuhan makan,hotel,resto,dsb. masyarakat terlalu konsumtif dalam hal kebutuhan, kejadian ini makin tak terkendali, seharusnya di era globalisasi ini masyarakat harus lebih selektif. saat ini banyak umat islam yang tidak sadar bahwa dirinya sedang terpengaruh oleh tipu daya kapitalisme.