Senin, 02 Februari 2015

BATU

( SUTARDJI CALZOUM BACHRI)

  
batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu janun
batu bisu

kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji ?

Dengan seribu gunung langit tak runtuh
dengan seribu perawan hati tak jatuh
dengan seribu sibuk sepi tak mati
dengan seribu beringin ingin tak teduh.
Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai
mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai
mengapa peluk diketatkan sedang hati tak sampai
mengapa tangan melambai sedang lambai tak sampai.

Kau tahu
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu

kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji ?

*******

Puisi ini merupakan salah satu puisi terbaik karya Sutardji. Terbaik karena dengan sangat jelas menunjukkan kekuatan mantra yang menjadi inspirasi utama karya-karya Sutardji. Sutardji sangat percaya pada kekuatan mantra yang mampu melampaui kekuatan kata. Kekuatan itu diujudkan dengan pengulangan.

Kita tahu dalam semua agama mengucapkan kata-kata terpilih secara berulang-ulang yang disebut zikir memiliki kekuatan luar biasa bagi yang melakukannya dengan khusuk. Karena zikir itu menunjukkan hubungan intens manusia dengan sang Khalik.

Hubungan manusia dengan Allah sejatinya tidak menggunakan perantara. Langsung antara manusia dengan Allah. Tak peduli siapa manusia itu dan bagaimana pun kondisinya. Ini berlaku universal. Mereka yang baik dan pendosa memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk berhubungan secara langsung dengan Tuhan, melalui ibadah, zikir, dan perbuatan baik.

Tragisnya, kini ada sejumlah orang yang tergila-gila dengan batu yang biasanya dibentuk menjadi batu cincin. Beragam motivasi orang menyukai batu. Ada yang terpesona pada keindahan warnanya. Ada pula yang sangat memahami batu secara keilmuan terkait dengan proses pembentukannya, unsur pembentuknya dan manfaat berdasarkan unsur yang terdapat di dalam batu.

Batu merupakan hasil proses pembentukan dan perubahan yang bersifat alamiah. Dibutuhkan waktu sangat panjang sampai batu terbentuk seperti yang ditemukan sekarang. Batu bisa berubah menjadi batu mulia yaitu intan berlian dan beragam jenis batu mulia lain melalui proses alamiah yang boleh jadi membutuhkan waktu jutaan tahun.

Faktor yang bisa ikut menentukan kualitas batu adalah letak geografis yang terkait dengan proses alam seperti adanya gunung berapi, pertemuan berbagai zat, dan macam-macam proses alam lainnya. Itulah sebabnya ada batu yang hanya ditemukan di daerah tertentu, dan ada jenis batu yang terdapat di banyak tempat. Tak ubahnya buah. Ada buah tropis dan ada buah yang hanya tumbuh di wilayah empat musim. Juga seperti manusia yang menjadi berbeda karena tinggal pada tempat yang tidak sama. Bukankah orang pesisir beda dengan orang gunung?

Jadi, orang-orang yang memiliki pengetahuan, apalagi ilmiah, akan melihat kelebihan batu semata dari unsur yang dikandungnya. Proses alamiah yang membentuk batu memang memberi pada batu unsur-unsur tertentu yang membuatnya memiliki "kekuatan" seperti memancarkan cahaya, mengandung unsur listrik lemah yang bisa hangat bila digenggam, atau menagdung ion tertentu yang bisa digunakan mengaktifkan ion-ion dalam tubuh kita.

Dalam jumlah yang tidak sedikit, ada penggila batu yang mempersepsi dan menghayati batu dengan cara mitis. Batu dikaitkan dengan dunia ghaib. Batu diyakini memiliki sejumlah kekuatan yang bisa dimanfaatkan bagi manusia. Berbagai kekuatan itu anatara lain menjadi media untuk berhubungan dengan Tuhan, bisa mendatangkan rezeki, mengusir makhluk halus yang jahat, menjaga dari serangan yang tak terlihat, menyembuhkan penyakit, enteng jodoh, dipercaya orang, menaklukkan atasan, dan beragam manfaat lain.

Tentu saja persepsi dan keyakinan ini sudah melampaui batas. Percaya pada benda mati bukan saja menunjukkan kebodohan, juga bisa membawa kesesatan dari keyakinan iman. Sungguh merendahkan manusia.

Sejumlah orang bahkan menyelenggarakan beragam upacara untuk mengisi batu atau memberi semacam "makanan", memandikan atau mensucikan batu sebagaimana dilakukan pada keris. Pastilah praktik-praktik ini harus dihindari dan dijauhi.

Namun, lihatlah sekarang ini di sekitar kita. Pada banyak tempat, mulai dari pinggiran jalan sampai mal mewah, orang-orang berkumpul untuk membeli dan membincangkan batu. Mulai dari petugas kebersihan sampai pejabat. Dari orang yang sama sekali tidak pernah sekolah sampai profesor doktor.

Mereka tidak ragu mengeluarkan uang dalam jumlah besar dan sangat besar untuk membeli batu. Harga batu tidak seperti harga gula atau baju yang pasti dan jelas indikatornya. Harga batu sangat tergantung kesukaan dan keyakinan para pembelinya. Karena itu harga batu seringkali mengejutkan. Bisa puluhan sampai ratusan juta, bahkan milyaran.

Sekarang ini sejumlah anggota masyarakat sedang mengalami histeria batu. Waktu, kesempatan dan dana dalam jumlah besar dikorbankan untuk membicangkan, mengurusi, dan membeli batu. Tidak sedikit orang yang lebih sering dan lebih banyak mengelus batu daripada mengelus istri atau anak. Sungguh batu menjadi perhatian dan semacam "sembahan" baru.

Bayangkan bila uang yang beredar untuk transaksi batu digunakan untuk berbagai keperluan seperti membantu anak yatim dan orang miskin. Pastilah lebih bermanfaat.

Juga waktu yang digunakan untuk berbincang tentang batu dimanfaatkan membincangkan topik-topik yang lebih bermanfaat, pastilah lebih baik. Namun, semakin hari justru penggemar batu semakin banyak dan meluas. Orang memburu batu sampai ke tempat-tempat yang sangat sulit dilalui dan ke luar negeri.

MANUSIA MEMANG MAKHLUK PALING ANEH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd