Senin, 02 Februari 2015

JANGAN MEMBESARKAN NAMA ALLAH DENGAN CARA YANG TAK PANTAS

Membesarkan nama Allah dengan cara memujiNya merupakan tindakan mulia. Karena sekaligus menunjukkan ketundukpatuhan, ketaatan, dan pengakuan akan kehambaan manusia berhadapan dengan kebesaran dan kemuliaan Allah. Itulah sebabnya ada tata aturan bagaimana seharusnya memuji dan membesarkan nama Allah. Tidak boleh dilakukan seenaknya dan secara sembarangan.

Memuji dan membesarkan nama Allah juga tidak boleh dilakukan dengan cara yang mengganggu orang lain. Karena sejatinya ketaatan dan penghormatan pada Allah membawa konsekuensi agar kita juga menghormati sesama manusia. Inilah harmoni hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia.

Salah satu ayat dalam Al-Quran yang mengaitkan kedua harmoni itu terdapat pada surat An-nisa ayat 36,

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri"

Sangat jelas tertulis bahwa ketaatan pada Allah harus berdampak pada penghormatan dengan sesama. Prinsip ini bisa dibedakan, namun tidak dapat dipisahakan. Dalam kaitan inilah penting memperhatikan kaitan antara keshalehan pribadi dan sosial. Orang yang menghayati keshalehan pribadi, seharusnya memiliki keshalehan sosial.

Ada baiknya perhatikan diri sendiri dan sekitar kita. Apa yang selama ini terjadi. Banyak orang berniat meninggikan nama Allah, namun dengan cara yang kurang atau tidak pantas karena mengganggu lingkungan sekitar. Bahkan cenderung bertentangan dengan prinsip dasar agama.

Betapa sering terjadi, ada pengajian di masjid. Sebelum pengajian para jamaah membacakan pujian pada Allah dan salawat bagi Rasulullah. Namun dengan suara asal-asalan yang sama sekali tidak enak didengar dan menggunakan pengeras suara yang sangat keras. Mengapa tidak berlatih dahulu agar suara yang dikumandangkan menjadi syahdu sehingga meresap ke hati. Mengapa pula memaksimumkan pengeras suara? Jika sudah begini orang akan bertanya, katanya Islam itu rahmat bagi semesta alam, tetapi mengapa dalam praktiknya jadi gangguan pada lingkungan?

Ada yang lain lagi. Ibu-ibu majlis ta'lim latihan qasidahan agar bisa ikut perlombaan qasidah di sebuah stasiun telvisi swasta. Lagu-lagu qasidah berisi pujian pada Allah. Mengapa latihannya setiap malam sampai pukul 22.30 dengan suara gendang yang sangat keras? Bukankah anak-anak teangga mesti tidur cepat karena besok pagi harus sekolah, dan bapak-bapak wajib ngantor? Tidakkah para ibu yang latihan itu juga punya anak dan suami yang perlu diperhatikan waktu istirahatnya?

Perhatikan dengan seksama, betapa banyak peringatan hari-hari besar keagamaan yang diperingati dengan menutup jalan raya, bukan pada hari libur. Akibatnya kemacetan parah dan orang-orang terpaksa berputar-putar mencari jalan alternatif. Apakah tidak ada cara lain untuk melangsungkan acara tersebut?

Bila yang ditutup itu jalan pemukiman yang relatif sepi rasanya orang bisa mengerti dan menerima. Namun, bila yang ditutup adalah jalan umum yang merupakan jalan utama dan banyak dilintasi orang, apakah bijak jika ditutup total dan menimbulkan kemacetan panjang, serta menyusahkan orang banyak?

Kini banyak kelompok yang menamakan diri majelis dan front. Bila menyuarakan aspirasinya mereka mengumandangkan takbir memuji Allah. Namun sering memaki dan bertindak anarkis. Merusak fasilitas umum dan mengganggu ketertiban umum. Ada majlis pengajian yang pulang dan pergi ke tempat pengajian bertindak layaknya genk motor. Mereka bukan saja bergerombolan di jalan dan melanggar aturan lalu lintas seenaknya, juga tidak segan memecahkan kaca taksi dan kendaraan umum tanpa sebab. Sungguh anggota majelis berkelakuan iblis.

Begitupun dengan teroris yang yakin bahwa mereka sedang berjihad untuk memenangkan agama dan membesarkan nama Allah. Namun caranya dengan membunuh siapa saja tanpa kecuali. Bahkan dengan keji dan kejam membunuh orang yang sedang beribadah dengan bom. Agaknya mereka kerasukan iblis.

Pastilah yang paling mengerikan saat ini adalah ISIS. Mereka hendak mendirikan negara Islam, meneriakkan nama Allah, membawa-bawa bendera dan atribut lain bertuliskan nama Allah. Namun, mereka memperkosa, dan membunuh dengan keji siapa saja tanpa proses hukum. Mereka sama sekali tak peduli agama dan asal negara orang, bila dianggap menentang dan merugikan dihabisi dengan cara-cara keji dan biadab. Mereka betul-betul bergaya rampok dan mafia. Meminta tebusan untuk orang yang disandera, bila tak dipenuhi, sandera dibunuh dengan cara keji.

Berbagai praktik membesarkan nama Allah dengan cara yang tidak pantas itu sungguh merupakan perbuatan keji dan biadab. Agama bukan dijadikan sumber kebenaran, tetapi sekadar digunakan untuk pembenaran bagi perbuatan mereka yang keji.

Apa yang mereka lakukan bukanlah bentuk salah faham terhadap agama, tetapi dengan segaja memanipulasi agama untuk kepentingan sendiri. Apa yang mereka lakukan adalah bukti bahwa agama dapat diplesetkan bagi kepentingan sempit jangka pendek manusia atau sekelompok manusia. Berbagai kejadian yang memalukan di atas mestinya memberi kita kesadaran bahwa

AGAMA BUKANLAH SEKADAR RANGKAIAN KATA SUCI, TETAPI TINDAKAN NYATA DALAM KEHIDUPAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd