(Seiring doa bagi Icha, Narsih, dan Diah)
Cinta manusia indah bila berujung nikah. Nikah mempertalikan dua manusia dalam ikatan kebersamaan yang tulus untuk menempuh hidup bersama, dalam bahagia dan sedih, dalam suka dan duka.
Nikah mempersatukan cinta dalam harmoni hubungan antarmanusia yang pada dasarnya berbeda satu sama lain. Pernikahan mempersyaratkan keduanya tetap menjadi diri sendiri dan sekaligus rela berbagi. Artinya perbedaan diakui dan dihargai dalam harmoni kebersamaan. Seringkali keduanya dituntut rela saling menyesuaikan untuk membuat kebersamaan itu tidak diusik oleh perbedaan tajam yang bisa saling melukai.
Karena itu, pernikahan mengharuskan adanya kemauan dan kemampuan untuk saling peduli dan berbagi secara empatis, namun tidak sampai menghilangkan jati diri masing-masing. Cinta bukanlah peleburan dua manusia menjadi manusia yang baru sama sekali. Pernikahan bukanlah adonan kue, semua lebur campur baur. Tetapi mirip irisan himpunan.
Kesatupaduan pernikahan itu terujud jika ia berbuah. Seperti pohon yang menghasilkan buah. Lahirnya anak dari pernikahan merupakan ujud nyata kesatuan. Karena anak merupakan paduan gen ibu-ayah. Meski kita tidak pernah tahu dan tidak dapat mengatur gen ibu atau ayah yang dominan pada anak. Namun, sejatinya anak itu paduan gen ibu-ayah. Boleh jadi wajahnya sangat ayah, namun warna kulitnya ibu banget. Hidungnya ibu betul, tetapi bibirnya foto copy ayah. Cerdasnya seperti ayah, baiknya kayak ibu. Itulah buah dari pohon cinta.
Betapa asyik kala ia mulai bereaksi di dalam perut. Menendang dan menyentuh ibunya dari dalam. Jungkir balik berolah raga. Memberi tahu pada ibu bahwa ia baik-baik saja dan bergembira di dalam rahim kehidupan. Dan tangis pertamanya benar-benar menjadi puncak kebahagiaan. Kehadirannya menyempunakan makna cinta dan pernikahan.
Siapa pun yang menikah sangat menginginkan hadirnya si mungil sebagai buah cinta yang sangat dinanti. Rasanya sempurna menjadi manusia saat si mungil itu hadir. Kehadirannya menjadi bukti bahwa betapa kuat ikatan cinta, sekaligus harapan bahwa cinta ini akan terus langgeng dalam rawatan sebuah keluarga.
Rumah menjadi ramai, riang, dan penuh kegembiraan karena suara tangisnya yang menggemaskan. Senyum kecil dan kerdip matanya yang mungil benar-benar menggetarkan hati. Sungguh anak adalah belahan jiwa ibu-ayah yang membuat hidup terasa sangat bermakna. Hangat kencingya di pangkuan menegaskan kehadirannya yang memang sangat dinanti.
Betapa manis wajahnya saat menguap karena digayuti kantuk. Tangis tengah malamnya lebih indah dari lagu apapun. Makin asyik bila ia mulai bergumam, seperti berzikir memuji kebesaran Illahi. Tambah gembira bila mendengar tawa dari mulut mungilnya yang lucu.
Namun, tak semua pernikahan bisa hadirkan si mungil. Terlalu banyak sebabnya. Persoalan-persoalan biologis yang rumit, dan problem-problem psikologs yang pelik hanyalah sebagian dari penyebab itu.
Kadang keduanya subur namun ada ketidakcocokan darah dan hormon. Boleh jadi yang satu bermasalah. Sering juga karena keduanya kurang istirahat dipicu kerjaan yang tak berujung. Persoalan keasaman, kekuatan, kapasias, dan bentuk rahim juga bisa jadi penyebab. Masih sangat banyak penyebab lain. Sungguh ini sangat tidak mengenakkan.
Pastilah semua mereka yang mengidamkan si mungil, telah dan terus berusaha keras agar ahkirnya si mungil hadir. Ke dokter, pengobatan alternatif, berdoa dan beragam usaha lain. Bahkan ada yang sudah mencoba mengikuti program bayi tabung. Namun, banyak yang belum juga mendapat kesempatan. Tidak sedikit yang akhirnya pasrah, meski belum menyerah.
Tenrtulah situasi ini sangat melelahkan hati. Kadang seperti berada di batas keputusasaan. Cemas berharap-harap, berharap-harap cemas. Terasa ada semacam kekosongan dalam hati dan keluarga. Seperti makan sayur tanpa garam, juga tanpa rasa pedas. Ada yang terasa tidak hadir, ada yang hilang.
Jangan pernah saling meyalahkan bila sudah begini. Ini saat untuk menguatkan dan sama-sama terus berusaha. Jangan pernah putus asa. Cinta mengharuskan kita untuk senang susah bersama. Jangan juga berniat, berfikir, dan mencoba berpaling. Percayalah, buah cinta, kehadiran si mungil tidak pernah bisa kita tentukan. Karena itu tetaplah berdoa dan berusaha.
Jangan pernah saling mencurigai dan berfikir serta berbicara dengan cara yang negatif. Tetaplah positif dan berharap. Hidup bukan kita yang tentukan dan kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan bagi kita. Boleh jadi bukan tidak diberi, tetapi belum waktunya sekarang. Tuhan akan memberikan yang terbaik pada saat yang tepat. Percayalah.
Meski masalah ini bisa sangat mengganggu, namun tak usahlah sampai membuat cinta menjadi layu atau berkurang. Cinta tetaplah ditumbuhmekarkan. Kehangatan cinta harus tetap dipelihara. Hati harus saling menguatkan.
Bagaimanapun keadaannya, hidup harus terus disyukuri, dilakoni, dan dinimati. Cinta mesti tetap digeloragairahkan. Walau agak mengganngu, jangan bersurut langkah, terus berupaya.
Si mungil, sang buah hati,belahan jiwa, pastilah sangat diharapkan. Karena ia mampu memberi kebahagiaan, menumbuhtunaskan cabang, dan ranting pohon keluarga besar, meneruskan garis keturunan, dan bisa menyelamatkan kita pada hidup di seberang kematian. Namun, bila belum juga hadir sampai saat ini, jangan sampai mengganggu kita untuk tetap berbuat baik pada sesama. Karena perbuatan baik akan melengkapi doa dan usaha yang telah kita lakukan untuk menghadirkannya,
BILA POHON CINTA BELUM JUGA BERBUAH, JANGAN PUTUS ASA, TERUSLAH BERDOA, BERUSAHA DAN BERBUAT BAIK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd