Bagi Jarot, Catur, Domo, Benny, Tarman, Maman, Iksan, Qadar)
Pada mulanya kitalah yang menentukan kebiasaan. Akhirnya kebiasaanlah yang mendominasi kita. Ini sifat alami otak manusia. Semua manusia, tanpa kecuali.
Aktivitas apapun yang kita lakukan, akan membentuk jaringan syaraf dalam sistem otak. Bila aktivitas itu dilakukan berulang-ulang dan terus menerus, maka jaringan itu menguat dan permanen. Jika telah permanen, maka giliran kita yang diatur oleh aktivitas tersebut yang telah jadi kebiasaan bahkan ketergantungan.
Itulah sebabnya kebanyakan orang Indonesia belum merasa makan bila belum memakan nasi. Meskipun sudah makan hamburger, kebab, dan pizza. Perutnya sebenarnya sudah kenyang, tetapi otaknya "belum merasa kenyang". Karena dalam sistem otaknya makan bermakna makan nasi. Sebab, kebiasaan itu sudah terbentuk sejak kecil. Bukan saja menjadi kebiasaan, tetapi sudah ketergantungan.
Meskipun tahu dan sangat paham bahwa merokok itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Namun, para pecandu rokok sangat sulit untuk menghentikan kebiasaan merokok. Bila tidak merokok bukan saja terasa ada yang hilang. Bahkan ada yang sampai tidak berdaya melakukan aktivitas. Kepala pusing dan kadang-kadang terasa "tidak dong" atau tidak nyambung.
Kebiasaan dan ketergantungan itu berpusat pada sistem otak yang terbentuk oleh pembiasaan yang kita lakukan sendiri. Oleh karena itulah semua agama mewajibkan umatnya melakukan ibadah rutin agar di dalam otaknya terbentuk jejaring syaraf yang membentuk kebiasaan baik. Sebab kebiasaan baik sangat berguna bagi kehidupan jangka panjang manusia.
Semua agama mewajibkan rutinitas yang teratur dan terstruktur yang harus dilakukan berulang-ulang secara terus menerus agar kebiasaan baik itu secara positif mempengaruhi keseluruhan sistem otak. Kebiasaan baik adalah kunci untuk menghayati hidup bermutu, menyenangkan dan membahagiakan.
Tentu saja hal sebaliknya berlaku. Kebiasaan tidak baik akan membawa banyak masalah dalam hidup. Merokok sudah pasti merupakan kebiasaan yang tidak baik. Pengaruh buruknya bagi kesehatan sudah tak terbantahkan. Biasanya dampak buruknya muncul dalam jangka panjang, tidak pada saat itu.
Kenneth Guiffre dan Theresa Foy DiGeronimo dalam "Memacu Kesehatan Otak" menguraikan bahwa rokok adalah pengacau bagi semua jenis gaya hidup sehat. Merokok merupakan kenikmatan sesaat yang memunculkan masalah berkepanjangan. Bayangkan bila anda terkena kanker paru-paru. Mati segan, hidup tak mau. Bisa jadi bangkai kasur. Bertahun-tahun menderita.
Shigeo Haruyama dalam The Miracle of Endorphin (2011) menegaskan, meski bisa memberi kesenangan, merokok tetaplah sangat berbahaya. Bukan saja bagi kesehatan, tetapi untuk keseluruhan hidup manusia.
Tentulah yang paling membahayakan itu adalah sifat ketergantungannya. Pada tingkat tertentu ada orang yang sama sekali tak berdaya dan tidak dapat melakukan aktivitas yang bermakna tanpa kehadiran rokok. Itulah sebabnya para perokok yang sedang diperiksa polisi gampang ditaklukkan dan dikorek keterangannya memanfaatkan ketergantungan pada rokok.
Merokok bukan hanya merusak diri sang perokok. Juga orang-orang di sekitarnya. Dalam kaitan inilah para perokok mestinya sadar, bahwa kebiasaan mereka merokok dapat merusak kesehatan keluarganya. Terutama anak-anak. Juga menjadi teladan yang buruk bagi anak.
Untuk kesenangan pribadi yang tidak seberapa, tega benar sampai mengganggu kesehatan keluarga dan menjadi teladan yang buruk bagi anak. Apalagi uang yang dihabiskan untuk merokok biasanya tidak sedikit, sebenarnya bisa untuk meningkatkan mutu hidup si anak. Bila dipakai merokok sebenaranya sama dengan membakar uang secara sia-sia. Padahal mencarinya membutuhkan kerja keras sampai sering meninggalkan keluarga.
Jika sudah demikian sangat terasa bahwa para perokok itu hanya mementingkan diri sendiri. Bukan hanya itu, mereka juga merusak diri sendiri dan keluarga. Pastilah praktik ini merupakan cinta diri yang buruk.
Cinta diri yang hanya mementingkan kenikmatan jangka pendek untuk diri sendiri dan kurang memikirkan kesehatan diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Para perokok bukan saja "membunuh" diri sendiri. Tetapi juga orang lain, termasuk keluarga yang seharusnya dicintai, dilindungi dan dijaga kesehatannya.
Berhenti merokok pastilah tidak mudah. Namun, lebih baik bagi diri sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar. Mencoba untuk berhenti merokok hanya berat pada mulanya. Tetapi sangat berguna pada akhirnya.
Melakukan suatu keputusan yang baik menjadi tindakan memang butuh kemauan dan keberanian berkorban. Tetapi bukankah sangat baik mengorbankan kebiasaan buruk untuk hidup yang lebih sehat, baik dan bermutu?
Berhenti merokok adalah perujudan cinta diri yang tepat. Akan memberikan pengaruh baik bukan saja pada diri sendiri. Juga pada orang-orang yang dicintai dan teman-teman.
CINTA DIRI YANG BENAR ADALAH BERHENTI MEROKOK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd