(Bagi Eko Pramono yang risau dan galau)
Ini takdir. Makhluk itu serba terbatas. Terbatas kemampuan, kecerdasan, dan daya tahannya. Meski setiap makhluk memiliki batas atas dan batas bawah dalam keterbatasan. Daya tahan yang satu lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Namun, tetap melekat di dalamnya keterbatasan.
Daya tahan yang terbatas itu mirip balon. Bisa terus mengembang, bersamaan dengan itu permukaannya makin menipis. Pada saat mencapai titik puncak perkembangan, gesekan kecil dengan benda apapun akan membuatnya meledak.
Manusia siapa pun dia, memiliki keterbatasan daya tahan. Bila daya tahan itu terus dipaksakan untuk mengembang, melampaui batas atasnya, pasti akan meledak, menghancurkan manusia dan kemanusiaan kita.
Manusia adalah makhluk biologis yang memiliki keterbatasan fisik. Pembuluh darah dan syarafnya bisa putus karena tekanan psikologis. Hormon dan enzimnya bisa kacau karena perubahan pola hidupnya.
Itu artinya, manusia harus tahu diri, menata dirinya agar tetap berada dalam zona aman, baik secara biologis, psikologis, dan spiritual. Menjaga keseimbangan dalam hidup yang pernuh tantangan.
Gampang dikatakan, namun sangat tidak mudah dilaksanakan. Hidup manusia bukan jalan lurus lempang bagai jalan tol yang mulus. Karena hidup yang dijalani dipadatcoraki oleh banyak pekerjaan yang mendera, masalah pelik, dan macam-macam tantangan yang kadang sama sekali tak pernah dibayangkan.
Semua manusia dalam berbagai tingkat usia pasti akan menghadapi beragam masalah. Tak mungkin manusia menghindar dari masalah. Saat menghadapi masalah inilah manusia diuji, apakah ia sungguh memiliki kemampuan mengambil keputusan yang tepat untuk melanjutkan hidup dengan bermakna.
Keputusan yang diambil akan ditentukan dan menentukan daya tahan. Seringkali kita terhanyut tenggelam dalam masalah, kehilangan orientasi dan kendali diri. Masalah terasa menempatkan kita dalam lorong sempit gulita. Kita bukan saja tak tahu jalan keluar, bahkan tak mengerti sedang berada dimana.
Masalah seringkali menempatkan kita dalam situasi problematis. Apalagi jika masalah itu menyangkut hati, rasa cinta. Tak pernah mudah mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah cinta dan percintaan. Ada emosi kuat di dalamnya. Emosi yang melibatkan seluruh kemanusiaan kita.
Kita sungguh berada dalam pusaran dan pulasan emosi kuat menggebu yang bukan saja menggoreskan luka, tetapi menorehkan kenyerian dan kengerian. Kengerian karena memperhadapkan kita pada sejumlah resiko yang boleh jadi menghancurkan hidup. Bukankah banyak orang nekat saat mengalami kegagalan cinta?
Mengapa masalah cinta begitu mengerikan dan meremukkan? Karena cinta seringkali menghancurkan daya tahan. Melumatkan nalar dan mengiris rasa. Akibatnya syaraf jadi kencang tegang, darah mendidih, konsentrasi hilang, fokus terganggu, dan emosi digerus habis.
Itulah sebabnya efek ikutan atau efek dominonya luar biasa. Mengganggu dan memporakporandakan aktivitas lain, sekolah, kuliah, pekerjaan bisa jadi berantakan. Orang bisa terus berada dalam kegamangan dan keraguan. Hidup tak tenang, hati tak tentu. Kerap kali fikiran jadi butek buntu.
Sekecil apapun masalah bisa jadi pemicu kemarahan dan tindakan nekat. Emosi jadi sering erupsi, memuncratkan panasnya kemarahan yang membakar dan menghancurkan apa saja.
Inilah saatnya untuk jeda. Mengambil jarak dari masalah. Jangan berpaling dan menghindar dari masalah. Itu tindakan pengecut, sangat buruk. Hadapi masalah. Tantang masalah itu untuk diselesaikan sampai tuntas. Pastilah ini sulit. Tetapi jangan mengalah. Jangan gegabah. Tetap tenang dan hati-hati.
Jika menyelesaikan masalah, apalagi masalah cinta, jangan turuti rasa marah, kecewa dan sedih. Jangan ada dendam dan kebencian. Cinta jika harus berakhir, meski pedih, juga harus indah, elok dan romantis.
Bukan hanya pertemuan. Perpisahan pun harus pantas dikenang, menjadi kenangan manis. Apapun kejadiannya, orang yang dicintai dan pernah dicintai harus tetap dihormati dan disayangi. Bukankah kita pernah merasa bahagia bersamanya. Ini saat tepat untuk mengenang semua yang elok dan indah saat masih bersama.
Perpisahan dengan orang yang dicintai pasti sakit dan menggoreskan luka. Namun, tidak perlu membuatnya menjadi sangat sakit dan amat terluka. Percayalah, waktu akan menyembuhkan luka.
Jangan memutuskan berpisah karena kebencian dan untuk saling menyakiti. Perpisahan sebaiknya dihayati sebagai takdir yang tak terelakkan karena terlalu banyak ketidakcocokan dan akan semakin melukai bila dilanjutkan.
Perpisahan harus dimaknani sebagai solusi terbaik bagi keduanya untuk hidup yang lebih elok dan bermakna di masa depan. Perpisahan harus menjadi garis start bagi keduanya untuk memulai yang lebih baik.
Inilah jalan cinta manusia. Manusia yang percaya bahwa cinta akan memberikan kebahagiaan pada akhirnya.
PERJALANAN CINTA MESTINYA INDAH, WALAU TAK SAMPAI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd