(Seiring doa bagi Dwi dan Merry)
Cinta itu aneh. Dinanti malah pergi, ditunggu justru berlalu. Suka ngeselin, tetapi tetep diharapin. Boleh jadi karena tanpa cinta, hidup rasa hampa. Seperti ada bolongan di dada.
Agaknya sudah merupakan takdir bagi manusia, bahwa cinta melekat dalam kalbunya. Tanpanya hidup jadi datar, tak ada getar hati dan rasa kangen yang meski menggelisahkan, namun mengasyikkan.
Tampaknya cinta bukanlah buah pada pohon kehidupan, tetapi batang bagi tumbuhnya tunas-tunas harapan. Batang yang membuat pohon itu berdiri tegak menghadapi terpaan angin badai kehidupan. Batang yang mengalirkan nutrisi dari akar untuk menjaga kehidupan dan tumbuh kembang. Itu yang membuatnya tak tergantikan. Tak ada kekuatan apapun yang dapat gantikan cinta.
Meski merupakan keniscayaan bagi manusia untuk rasakan, hayati dan miliki cinta. Namun, cinta yang mewujud menjadi mencintai dan dicintai tak selalu singgah pada setiap insan. Kita tak pernah tahu dengan pasti apa penyebabnya.
Sangat terasa bahwa kerap kali cinta itu terlalu memilih. Ia hanya memilih apa yang diinginkan dan disukainya. Kita tak pernah paham apa alasannya. Setiap cinta mungkin memiliki alasan sendiri-sendiri dan berbeda-beda.
Cinta memang bukan hanya hubungan baik dan interaksi antara manusia. Lebih dari itu, cinta adalah kemauan dan kemampuan untuk menerima dan memberi. Menerima apa adanya, memberi yang terbaik. Barangkali ini salah satu kesulitannya.
Bukan hanya itu, cinta juga membutuhkan kesanggupan untuk memahami secara empatis. Ini memaksa kita harus keluar dari penjara ego, dari pasung dan jerat cinta diri berlebihan. Karena pada dasarnya cinta itu adalah tanda kemanusian yang merupakan makhluk yang merasakan ke dalam dan sekaligus mengarah keluar.
Pastilah tidak mudah untuk secara tepat menentukan kapan harus lebih merasakan ke dalam dan berbagi keluar. Sulit menentukan batas-batasnya. Kapan mulai lebih ke dalam dan bila waktunya mendahulukan mengarah keluar untuk peduli dan berbagi.
Semakin sulit kala diri ini telah dijerat oleh rutinitas pekerjaan yang terus menghimpit sehingga hanya tersisa celah sangat sempit untuk urusan hati. Resikonya hati akan terus merasa sepi sendiri.
Kadang harus ada keberanian untuk menilai diri sendiri. Bertanya dan mempertanyakan, apakah ada yang tidak pada tempatnya? Mengapa terasa sulit untuk memulai? Mengapa tak ada kesempatan untuk memilih? Mengapa tak jua datang orang yang bersedia menerima dan menjatuhkan pilihan? Apa yang salah? Apa yang masih kurang? Apalagi yang mesti dilakukan?
Apakah selama ini kurang membuka diri? Apakah kurang peduli? Terlalu asyik dengan diri sendiri? Ada rasa enggan untuk berbagi? Ada rasa ragu yang terus membuntuti? Kurang percaya diri? Takut memulai?
Cinta manusia adalah buah interaksi melalui komunikasi dan saling mengerti. Memang tidak mudah untuk memulai. Sering tak tahu harus dari mana memulai. Menata persaan sendiri atau mencari yang mau memahami?
Sebelnya saat sudah bertemu yang terasa "nyambung", tetapi lidah ini kaku kelu. Tak tahu mau omong apa, memulai dari mana. Sungguh terasa mengiris hati sendiri.
Jika begini, dunia terasa sempit dan sinis. Tak mau mengerti keberadaan diri. Terasa betapa sakit terisolasi dalam diri sendiri. Terperosok dalam sepi. Ngilu hati. Fikiran terpagari. Betapa sempit bumi ini. Tak memberi kesempatan, meski sekali.
Boleh jadi ini semacam takdir. Diberi kesempatan lama menanti untuk menata diri. Agar bisa mempersiapkan hati untuk menerima dan berbagi. Tetapi sampai kapan menanti? Terlalu lama menanti bisa mengganggu kendali diri.
Sabar dan tetap optimis adalah kata kunci. Apapun boleh terjadi, dan tetap percaya akan datang saatnya ketika cinta menyapa dan menyambangi. Bisa dengan cara dan waktu yang tak terduga. Harapan masih ada dan tetap terbuka.
Tak ada alasan untuk putus asa. Apapun bisa terjadi dalam hidup dan cinta. Tetaplah percaya, akan indah pada waktunya. Ini hanya soal waktu.
Percaya bahwa takdir akan bermuara pada kebaikan, saat bunga cinta mekar karena memang saatnya mekar. Bukankah setiap bunga memiliki waktu mekar dan layu yang tidak sama. Melati cepat mekar dan layu, anggrek tidak begitu. Butuh waktu lama menunggu bunganya mekar, namun lama pula waktunya untuk menjadi layu.
Percaya pada takdir baik. Tetap positif dan optimis. Bahwa pada waktunya cinta akan singgah dan tak pernah pergi meninggalkan luka. Cinta sejati memang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan tak pernah layu.
CINTA AKAN DATANG PADA WAKTUNYA, PERCAYALAH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd