Minggu, 30 Maret 2014

DOLLY

Dolly adalah kontroversi. Dolly menghebohkan dunia. Dolly merupakan makhluk hidup pertama hasil kloning. Ada fihak yang berpendapat proses kloning merupakan campur tangan manusia dalam wilayah penciptaan yang sebenarnya merupakan kewenangan Tuhan. Kloning domba Dolly dianggap melampaui penciptaan bayi tabung dalam proses penciptaan. Karena itu tidak usah kaget bila ada yang mengharamkannya.

Soal kontroversi dan haram ini juga muncul dalam khotbah Jumat saat kami melaksanaknnya di Surabaya. Topiknya menegakkan kebenaran dan kebaikan dalam rangka Dolly, lokalisasi pelacuran terbesar di Surabaya.

Khotib menggunakan ayat-ayat Al Quran untuk menegaskan bahwa Dolly itu harus segera ditutup karena merupakan tempat maksiat. Dia juga mengaitkan kemaksiatan dengan bencana. Berdasarkan berbagai kejadian masa lalu yang tercatat di dalam Al Quran bagaimana bencana terjadi karena manusia berbuat maksiat.

Topik kaitan maksiat dan bencana ini sudah banyak dibicarakan di banyak tempat dari waktu ke waktu, oleh banyak orang dari berbagai latar belakang. Kontroversi selalu mencuat bila diskusi dan debat soal ini mengemuka. Terdapat pandangan yang berbeda, bahkan saling bertentangan  terpaut korelasi maksiat dan bencana.

Secara pribadi saya menghargai semua pandangan baik yang mengaitkan hubungan langsung maksiat dengan bencana, maupun yang tidak melihat hubungan langsung, bahkan yang tidak melihat hubungan sama sekali. Semua pandangan memiliki landasan rasional, dan bukti empiris masing-masing. Meskipun semuanya bisa dipersoalkan secara kritis. Kontroversi menguat karena ada unsur keyakinan di dalamnya.

Terpaut dengan penutupan lokalisasi Dolly kita bisa belajar dari banyak kejadian serupa. Dulu pantai Binaria Ancol terkenal sebagai tempat maksiat. Juga lokalisasi Kramat Tunggak yang merupakan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Ada lagi Kali Jodoh, dan Bongkaran Tanah Abang yang terkenal sebagai lokalisasi kelas bawah. Semuanya terdapat si Jakarta.

Pada masa gubernur Soerjadi Soedirja, pantai Binaria Ancol berhasil ditutup lewat razia intensif pada akhir pekan yang biasanya sangat ramai. Kini pantai Binaria Ancol merupakan tempat yang asyik untuk liburan keluarga, pagi, siang, sore, dan malam. Dulu bila malam dipenuhi kupu-kupu pantai.

Sementara itu pada masa kepemimpinan Sutiyoso, Kramat Tunggak berhasil ditutup dan dibangun pusat kegiatan Islam dengan masjid yang megah di bekas lokalisasi itu. Harus dikatakan penutupan Kramat Tunggak dan menjadikannya pusat kegiatan Islam merupakan salah satu bukti keberhasilan Sutiyoso sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bersamaan dengan itu lokalisasi Kali Jodoh dan Bonkaran Tanah Abang dibongkar habis.

Pertanyaannya apakah pelacur tidak ada lagi di DKI Jakarta, dan bisnis pelacuran hilang? Ternyata tidak, bahkan ada kecenderungan makin marak dengan jumlah pelaku yang makin meningkat. Sekarang di benyak tempat seperti mal, club, pub, diskotik malah banyak anak ABG alias anak di bawah umur yang terlibat sebagai pelaku.

Bahkan berkelilinglah di sekitar pusat kegiatan Islam di bekas lokalisasi Kramat Tunggak setelah maghrib, sejumlah warung remang bermunculan dan kupu-kupu jalanan beroperasi sampai pagi. Sekarang ini tempat para kupu-kupu jalanan itu malah tersebar di banyak tempat dengan rentang waktu yang tak terbatas.

Di Jalan Gajah Mada dan Majapahit mereka muncul selepas maghrib. Di sekitar Jatinegara malah sejak siang. Di Prumpung ramai setelah azan Isya. Di jalan Dr. Saharjo, di By Pass, sekitar Blok M, Lokasari, Mangga Besar, seputaran Senen, dan banyak tempat lain di seantero Jakarta. Bongkaran dan Kali Jodoh beroperasi kembali. Panti pijat makin banyak, juga pub, club, karaoke, dan diskotik juga tidak semakin berkurang. Ditambah lagi maraknya kemunculan hotel yang memang secara sengaja menyelenggarakan hiburan malam eksotik berupa tarian erotis, serta menyediakan kupu-kupu malam yang berasal dari manca negara. Mal-mal juga dijadikan ajang oleh para ABG untuk menjajakan diri. Hotel esek-esek yang dikenal sebagai hotel transit atau motel juga bertambah dengan signifikan malah pemda DKI juga ikutan membangun dan mengelolanya.

Pelacuran dari semua tingkat, kelas bawah, menengah, dan atas tidak juga makin berkurang. Terus bertambah. Belum lagi yang menggunakan jalur online. Bisnis syahwat ternyata tak mengenal pasang surut. Karena dorongannya melekat pada semua manusia normal. Bisnis syahwat tak benyak terpengaruh resesi ekonomi, tetap berjalan dalam situasi apapun.

Memang lokalisasi resmi berhasil digerus, tetapi sungguh mengikuti prinsip perjuangan di tahun 45, patah tumbuh hilang berganti, gugur satu tumbuh seribu. Dulu terpusat di lokalisasi yang terkendali, lokalisasi ditutup, mereka meyebar, malah tak terkendali sama sekali. Pilihannya jadi terpusat di lokalisasi atau menyebar di mana saja.

Kita juga perlu menyambangi sejumlah daerah yang dikenal sebagai pemasok utama para wanita yang menjadi pelaku utama bisnis syahwat ini. Wanita dari daerah-daerah ini bukan saja ada di banyak titik di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Hongkong dan Taiwan. Tilik dengan seksama dan cermat bagaimana tradisi 'menjual anak' merupakan sesuatu yang sangat membanggakan. Apalagi jika keluarganya bisa membangun rumah bagus serta memiliki kehidupan sosial ekonomi yang semakin meningkat.

Juga perlu dijadikan pelajaran berharga bagaimana sejumlah hotel di Jakarta dan sejumlah titik di Puncak secara khusus melayani dan mengelola hubungan lelaki dan perempuan baik dengan cara transaksi pelacuran yang standar, maupun dengan pola kawin kontrak, khusus bagi laki-laki asal Timur Tengah. Kita sama tahu, para lelaki itu tinggal di negara yang peraturannya tentang pelacuran sangat tegas dengan hukuman yang sangat berat. Bisa jadi memang tak ada pelacur di sana. Tetapi kita juga tak bisa menutup mata tentang banyaknya kasus pemerkosaan terhadap TKI asal Indonesia dan banyaknya lelaki dari negara-negara itu yang menjadikan negeri ini dan banyak negeri lain terutama Eropa sebagai syurga dunianya.

Bila menutup lokalisasi WTS resmi ternyata tidak menyelesaikan masalah dan pelacur serta pelacuran malah jadi menyebar ke mana-mana, bukankah seharusnya kiat mencari solusi yang lebih konprehensif, bijak dan sungguh-sungguh menyelesaikan masalah secara tuntas. Karena pelacur dan pelacuran bukan sekadar masalah moral.

Pelacur dan pelacuran sangat kompleks, tidak bisa disederhanakan sekadar menjadi masalah moral dan agama, soal halal haram, pahala dosa. Karena menyangkut dimensi sosial kemasyarakatan, tradisi dan budaya, ekonomi, tradisi dan budaya, serta kemanusiaan. Itulah sebabnya jika masalah pelacuran  hendak diselesaikan dengan sekadar menutup lokalisasi sama dengan mengobati kanker paru-paru dengan obat batuk hitam. Mungkin akan memberi rasa lega sementara, tetapi penyakit utamanya dibiarkan berkembang cepat karena tak pernah disembuhkan.

PENYELESAIAN MASALAH KOMPLEKS DENGAN CARA INSTAN, BUKANLAH PENYELASAIAN MASALAH.

4 komentar:

  1. Suci Ramadhaniyati (4915133404)
    P.IPS B 2014

    DI zaman yang semakin keras ini, pasti timbul berbagai topik permasalahan yang amat sangat kompleks, dan tentunya masalah kompleks tidak bisa diselesaikan secara instan, butuh pemecahan masalah secara mendetail dan mencabut dari akarnya agar masalah tersebut bukan hanya terpecahkan tetapi tak akan datang lagi. Ini sebuah delusi jika memecahkan masalah kompleks hanya secara instan. Agama pun menguraikan bahwa semua membutuhkan proses yang mendetail, untuk mencapai suatu kesempurnaan. Di dunia ini tidak ada yang instan, hanya mie saja yang bisa dimasak instan, tetapi kalau ditilik lebih dalam lagi, sebenarnya memasak mie saja tidak instan, kita harus memasak air terlebih dahulu, lalu menunggu air itu sampai masak lalu baru kita bisa mematangkan mie -nya. Itu juga baru mienya yang matang tanpa rasa. Diibaratkan mie sebagai masalah, maka masalah pun perlu adanya langkah-langkah yang terstruktur untuk memecahkannya.
    TIDAK ADA YANG INSTAN DI DUNIA INI KARENA SEMUA BUTUH PROSES YANG PASTI.

    BalasHapus
  2. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Memang setiap permasalahan memerlukan tinjauan yang lebih luas, tidak bisa secara instan. Perlu adanya survei dan penelitian yang berlanjut mengenai masalah tersebut. Dolly menjadi perbincangan hangat karena sistem kloning belum menyebar luas pada saat itu. Kloning pada hewan dari buku yang saya baca boleh jika itu bertujuan meningkatkan produktivitas dan kualitas, namun kloning pada manusia itu yang tidak diperbolehkan.
    pertanyaan
    1. Untuk mengatasi masalah yang sangat urgen bukankah solusi instan bisa menjadi solusi yang efektif untuk sementara waktu?
    2. Jika malsalah perpelancuran ini memerlukan tinjauan yang lebih dalam dari mana kita memulainya?

    BalasHapus
  3. Nama : Raras Elvinza
    No. Reg : 4915131395
    Jurusan : P.IPS Reg

    Bisa kita lihat di zaman sekarang yang serba ada dan serba mudah ini orang-orang dengan mudah dapat mengambil atau mengakses sesuatu. Faktanya yang sekarang itu seperti manusia ingin memuaskan nafsu birawinya, manusia hanya dengan mudah tinggal datang ke tempat-tempat prostitusi yang sangat banyak dan mudah ditemui didaerah Jakarta. Padahal tempat-tempat tersebut sudah banyak menimbulkan kontraversi dan bahkan menjadi pandangan-pandangan yang berbeda dari setiap orang bahwa tempat-tempat maksiat seperti itu dan banyak orang pun yang berbuat maksiat bisa menimbulkan bencana yang datang. Secara pribadi saya sangat menghargai beberapa pendapat dan pandangan orang-orang yang berbeda tersebut, karena semua orang punya cara atau asumsi sendiri untuk menafsirkan apa yang ia lihat ataupun hanya didengar tetapi langsung dianggap sebagai fakta, dan juga semua pandangan memiliki landasan rasional, dan bukti empiris masing-masing. Tetapi menurut saya ada benarnya bahwa adanya bencana itu karena banyaknya orang yang berbuat maksiat. Mungkin saja Tuhan sudah sangat amat marah melihat semua manusia ciptaannya malah berbuat hal yang tidak bernilai seperti itu, bukan malah berbuat hal-hal yang baik dan mentaati semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dibalik semua masalah itu pasti ada hikmah dan jalan keluarnya, tergantung bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi tempat-tempat maksiat itu. Masalah pun perlu adanya langkah-langkah yang terstruktur untuk memecahkannya. Dan yang kita tahu bahwa masalah tidak bisa dengan instan dapat terselesaikan, semua itu butuh proses yang pasti.

    1. Apa yang membuat orang menjadi pekerja prostitusi padahal sudah ada larangan yang keras dan sanksi yang nyata terhadap orang yamg melanggar?
    2. Bagaimana cara mengurangi tempat-tempat untuk berbuat maksiat seperti itu?
    3. Apa langkah-langkah yang terstruktur untuk memecahkan sebuah masalah?

    BalasHapus
  4. Syifa Wulandari
    P.IPS Regular B 2013
    4915133405
    Sungguh menarik sekali ketika membaca tulisan diatas, mengenai kloning apakah menyalahkan kodrat penciptaan makhluk dan tentang dolly, sebuah lokalisasi yang disebut sebut terbesar di Asia Tenggara. Kloning pada binatang sesungguhnya adalah untuk meningkatkan produktivitas binatang itu sendiri dan untuk meningkatkan kualitas. Namun pada kloning manusia memang sungguh tak heran jika terjadi perdebatan apakah itu boleh dilakukan atau tidak, alasan kuatnya adalah penciptaan manusia hanyalah kewenangan Tuhan dan bukanlah ranah manusia untuk mencampuri proses alamiah dari proses penciptaan manusa. Dan untuk masalah lokalisasai dolly merupakan masalah yang sangat kompleks. Banyak dari elemen harus membantu dalam menyelesaikan masalah ini, dari aspek agama, kesosialan dan yang paling penting adalah kemanusiaan. Jika hanya menutup saja lokalisasi tersebut maka sama saja akan ada pelacur dan pelacuran yang malah tersebar bukan terpusat lagi, justru hal semacam itu membuat bisnis ini tidak akan pernah mati. Perlu ada solusi yang konprehensif dan saling bekerja dari pihak pemerintah dan masyarakat.
    Pertanyaan:
    1. Cara konprehensif apa yang harus dilakukan untuk masalah lokalisasi-lokalisasi di indonesia?
    2. Sebelum ada cara konprehensif tersebut, apakah harus diadakan penelitian mendalam mengenai lokalisasi itu?
    3. Jika yang ada hanya solusi yang praktis namun bisa dirasakan perubahannya, mengapa tidak? bagaimana menurut bapa?
    Terima Kasih.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd