Seorang teman yang
sedang berada di Arab Saudi mengontak. Ia tampak tidak terima bila pemerintah
atau masyarakat mengumpulkan uang untuk membayar diyat atau uang darah yang
sangat besar bagi pembebasan TKW dari ancaman hukuman mati. Dia dengan semangat
katakan, itu tindakan sia-sia. Bisa jadi bantuan itu malah akan membuat
peristiwa kayak gini akan terulang, lagi dan lagi. Bukan kali ini saja kan
peristiwa kayak gini terjadi?
Sebagai orang yang
sering berada di Arab Saudi mendampingi jemaah haji atau umroh, dia agaknya
punya pandangan yang sangat berbeda dengan banyak orang di tanah air. Dia
bilang lebih baik duit 12 milyar atau 60 milyar digunakan untuk menyekolahkan
anak yatim dan orang miskin di tempat yang paling banyak mengirimkan pembantu
ke Arab Saudi, daripada untuk membayar diyat. Dengan demikian bila pun mengirim
TKI atau TKW ke Arab atau ke negara lain, minimal sudah tamat SMU atau SMK.
Jangan seperti sekarang, banyak orang yang tidak tamat SD atau MI bisa pergi
kerja ke Arab Saudi dengan ijazah SMU atau SMK bodong. Wajar kan bila yang
dikirim orang yang pendidikannya rendah jadi korban. Di dalam negeri aja banyak
terjadi.
Dia kemudian
bercerita pengalamannya mengurus sejumlah TKW bermasalah di Arab Saudi. Secara
ringkas inilah pandangannya. TKW yang datang ke Arab Saudi itu pada umumnya
orang kampung dengan pendidikan rendah. Dalam jumlah yang besar mereka ke Saudi
karena melihat tetangganya jadi kaya bila kerja di Saudi sekitar tiga tahun.
Kebanyakan mereka didorong oleh keluarganya atau sejumlah orang yang bisa
dikategorikan 'mafia tenaga kerja', sebuah jaringan terstruktur yang punya
jejaring di dalam dan luar negeri. Jika bukan merupakan jejaring, bagaimana
bisa mereka mengirimkan tenaga kerja illegal ke luar negeri. Jumlah yang mereka
kirim juga tidak sedikit. Coba perhatikan, kebanyakan TKW atau TKI yang
bermasalah kan tidak jelas perusahaan pengerah tenaga kerja mana yang
mengirimkannya. Perusahaan-perusahaan ilegal itu bukan pengerah tenaga kerja,
namun peperah tenaga kerja. Mereka ahli memerah manusia. Dikira manusia itu
sapi yang biasa diperah.
Pada umumnya para
tenaga kerja itu sudah tahu resiko apa saja yang bisa mereka dapatkan bila
bekerja di luar negeri, khususnya di Arab Saudi. Seperti di tanah air dan di
seluruh dunia, orang Arab dan keluarga orang Arab itu ada yang baik dan tidak
baik. Di Al Quran juga kan ada dijelaskan orang Arab itu ada yang baik dan
tidak baik seperti Abu Jahal yang jahil. TKW juga begitu. Ada yang baik dan ada
pula yang tidak baik. Malah yang belagu tidak sedikit. Perhatikan saja di
pelataran Masjidil Haram bila selesai shalat jumat atau di bandara saat mereka
mudik. Tidak sedikit yang bawa anak tidak jelas bapaknya. Jangan disangka semua
mereka yang lakukan itu karena dipaksa.
Tidak sedikit TKW
yang bertingkah tidak baik. Dalam kaitan itulah mesti difahami mengapa ada
'mafia buku nikah' di Arab Saudi. Sejumlah orang memperdagangkan buku nikah
aspal di Saudi. Sudah pasti mereka orang Indinesia. Jadi, jangan pernah membuat
kesimpulan umum, bahwa semua TKW yang bermasalah pasti yang salah majikannya.
Tidak dipungkiri bahwa memang ada yang jadi korban kekejaman majikan. Tetapi
jangan salah, ada juga yang mengorbankan majikan. Kisah TKW merampok majikan
juga tidak sedikit. Tidak selalu karena gaji mereka belum dibayar. Ada juga
karena TKWnya yang bermasalah.
Oleh kerena itu
jangan seperti kebakaran jambang atau bulu ketek jika ada berita TKW mau dipancung.
Apalagi kehebohan muncul ketika hukuman pancung mau dilaksanakan. Proses
hukumnya kan lama, bisa berbulan-bulan. Sebaiknya ada semacam investigasi, apa
saja yang dilakukan perwakilan Indonesia di Saudi. Lihat saja sewaktu ada
kesempatan untuk pemutihan izin tinggal, berantakan banget kan. Mohon maaf,
kebanyakan mereka hanya mengrus yang banyak duitnya. Seperti kebanyakan
birokrat benalu di tanah air juga.
Pemerintah
seharusnya melakukan perbaikan sejak dari hulu. Jangan hanya ribut bila ada
masalah di hilir. Media massa juga mesti berani membongkar berbagai 'mafia
tenaga kerja'. Media massa mestinya juga melakukan investigasi secara mendalam
persolan ini, sehingga menjadi jelas pokok masalahnya. Rasanya kita semua tahu,
bisnis tenaga kerja ini kan melibatkan uang triliunan. Tidak beda jauh dengan
bisnis haji dan umroh. Oleh karena itu banyak 'mafianya'. Apa bisa dipastikan,
oknum pejabat tidak terlibat?
Masyarakat juga
mestinya mencari tahu perilaku TKW yang bekerja di Arab Saudi. Apa semua mereka
bersikap baik? Bila mereka merampok dan membunuh, murni karena kejahatan, apa
mesti dibela mati-matian juga? Mestinya setiap kasus dipelajari dengan seksama,
sehingga kebijakan yang diambil juga tidak sama untuk setiap kasus. Di tanah
air juga banyak kisah orang kecil yang jadi korban ketidakadilan dan mati
percuma, mereka kita tidak rame dan heboh?
Kita musti belajar
pada Filipina dan Thailand yang hanya mengirim tenaga ptofesional ke luar
negeri. Pemerintahnya sangat sungguh-sungguh mempersiapkan dan mengurus
warganya yang bekerja di luar negeri. Karena faktanya, para pekerja di luar
negeri itu adalah pejuang devisa. Oleh sebab itu mesti diurusi dengan
sungguh-sungguh, sistematis dan dan terukur.
Jangan sampai
seperti sekarang. Tidak sedikit pekerja kita jadi objek pemerasan di dalam dan
di luar negeri. Kebanyakan yang memeras atau memerah ya orang Indinesia. Orang
Indonesia juga mesti faham sistem hukum di Arab Saudi dan kelakuan sebagian
orang Arab yang menjadikan diyat sebagai komoditi transaksional.
Apa semua orang
Arab Saudi menganggap pembantu yang bekerja di rumahnya sama dengan kita di
tanah air? Pemahaman budaya dan tradisi hidup keseharian di Arab Saudi juga
mesti difahami.
Kesannya, dari
dulu sampai sekarang orientasi kita hanya devisa dan mengurangi angka
pengangguran di dalam negeri. Janganlah karena tidak mampu menyediakan lapangan
kerja yang layak bagi bagsa sendiri, malah membiarkan, memudahkan, bahkan
mendorong mereka bekerja ke luar negeri. Celakanya yang didorong adalah tenaga
kerja berketerampilan rendah yang sangat lemah posisi dan kedudukannya.
Tidak sedikit anak
bangsa ini yang bekerja di luar negeri, bahkan di Eropa dan Amerika Serikat
yang persyaratannya sangat tinggi. Rasanya kita tak pernah dengar ada masalah
seperti yang dialami para TKW itu. Dalam jumlah yang cukup banyak mereka
bekerja di sektor-sektor yang secara sosial ekonomi tinggi dan bergengsi.
Kehadiran mereka di luar negeri bukan hanya bekerja mencari rezeki. Seringkali
juga menjadi semacam duta yang memperkenalkan banyak hal baik di Indonesia dan
tentang Indonesia. Di Jepang, banyak anak muda Indonesia yang memiliki
kedudukan dan posisi bagus di perusahaan kelas atas Jepang.
Harus juga
disadari, banyak kasus TKW dan pekerja tidak terampil di luar negeri, telah
ikut mencoreng wajah negara bangsa ini. Kesannya negara besar Indonesia itu
cuma mampu ngirim pembantu. Khusus untuk Malaysia dan Singapura ditambah bonus
asap. Karena itu, seharusnya
Nama : Pathurochmah
BalasHapusKelas : P.IPS Reguler B 2013
ironis memang, ketika kita melihat adata yang ada bagaimana setiap tahunnya tingkat TKW itu semakin meningkat. gaji yang menggiyur dan tidak adanya lapangan pekerjaan membuat profesi TKW menjadi alternatif dalam menyambung kehidupan, belum lagi himpitan ekonomi yang kian hari kian menyesakan dada membuat para TKW tidak pikir panjang untuk menerima tawaran menjadi seorang TKW. Sebaiknya para TKW diberikan ketrampilan yang memadai juga penguasaan bahasa yang bagus, sehingga kasus seperti ini akan sedikit berkurang. Asumsi-asumi yang ada pada saat ini kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada karena tidak semua majikan itu berlaku kejam, juga tidak semua TKW berprilaku baik. Jika rasa saling menghargai ini benar-benar dipraktekan maka hal ini tdak akan terjadi.
pertanyaan
1. Lalu apakah kita hanya bisa tinggal diam melihat saudara kita akan dihukum mati?
2. Bagaimana pengukuran profesional bagi seorang TKW?
Nama: Marsella dwi rahmah
BalasHapusNIM: 4915131394
Saya setuju dengan pendapat bapak“HANYA ORANG PROFESIONAL SAJA YANG BOLEH DIIJINKAN BEKERJA DI LUAR NEGERI.” Seharusnya para TKI/TKW diberi bekal keterampilan dan disosialisasikan penggunaan bahasa yang baik sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Karena TKW/TKI merupakan pejuang devisa jangan hanya mementingkan keuntungan saja tetapi juga harus diurusi dengan sungguh sungguh. Pemerintah harus mempersiapkan dengan baik dan mengurusi warganya yang bekerja disana. Wajar saja jika banyak TKW/TKI yang tersangkut kasus hukum diluar negeri, karena para pekerja yang bekerja disana tingkat pendidikannya rendah, orang yang berpendidikan rendah cenderung kurang memahami etika dan peraturan-peraturan yang ada. Pada kenyataannya memang tidak semua majikan disana yang jahat dan kejam tetapi terkadang para TKW/TKI nya yang berbuat tidak baik. Jika para TKW/TKI yang bekerja disana adalah orang yang professional,mempunyai keahlian dan mempunyai tingkat pendidikan serta moral yang baik, maka kejadian seperti ini mungkin tidak akan terjadi.
1. Apakah peran pemerintah Indonesia kurang mengurusi warganya yang bekerja disana?
2. Apakah pendidikan moral perlu dilakukan sebelum para pekerja diberangkatkan keluar negeri?
3. Langkah-langkah apa saja yang seharusnya dilakukan pemerintah agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi?
Nama: Marsella dwi rahmah
BalasHapusNIM: 4915131394
Saya setuju dengan pendapat bapak“HANYA ORANG PROFESIONAL SAJA YANG BOLEH DIIJINKAN BEKERJA DI LUAR NEGERI.” Seharusnya para TKI/TKW diberi bekal keterampilan dan disosialisasikan penggunaan bahasa yang baik sebelum diberangkatkan ke luar negeri. Karena TKW/TKI merupakan pejuang devisa jangan hanya mementingkan keuntungan saja tetapi juga harus diurusi dengan sungguh sungguh. Pemerintah harus mempersiapkan dengan baik dan mengurusi warganya yang bekerja disana. Wajar saja jika banyak TKW/TKI yang tersangkut kasus hukum diluar negeri, karena para pekerja yang bekerja disana tingkat pendidikannya rendah, orang yang berpendidikan rendah cenderung kurang memahami etika dan peraturan-peraturan yang ada. Pada kenyataannya memang tidak semua majikan disana yang jahat dan kejam tetapi terkadang para TKW/TKI nya yang berbuat tidak baik. Jika para TKW/TKI yang bekerja disana adalah orang yang professional,mempunyai keahlian dan mempunyai tingkat pendidikan serta moral yang baik, maka kejadian seperti ini mungkin tidak akan terjadi.
1. Apakah peran pemerintah Indonesia kurang mengurusi warganya yang bekerja disana?
2. Apakah pendidikan moral perlu dilakukan sebelum para pekerja diberangkatkan keluar negeri?
3. Langkah-langkah apa saja yang seharusnya dilakukan pemerintah agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi?