Minggu, 30 Maret 2014

KERENDAHAN HATI SANG BEGAWAN

(Doa dan penghargaan bagi Soedjatmoko)

Soedajatmoko adalah oase bagi banyak orang Indonesia. Ia salah seorang cendekiawan dunia ketiga yang paling didengar di mana-mana. Ia seorang 'pelintas batas' yang memiliki kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda, dan punya keberanian besar untuk menempuh jalan sebaliknya yang dihindari banyak orang.

Ia sangat kalem, santun, bijak, namun sangat tajam dalam analisis. Ia selalu tunjukkan di mana ia berdiri, dengan tegas, meski harus berhadapan dengan resiko yang kadang sangat getir. Ia sungguh cendekiawan seperti yang ditulis dalam banyak buku sebagai orang yang berumah di atas angin.

Aku berkenalan dengannya berkat jasa Ibu Conny R. Semiawan yang pada waktu itu (1988) adalah Rektor IKIP Jakarta. Kami anak-anak muda di IKIP memiliki keprihatinan besar terkait dengan haluan pendidikan nasional yang menurut penghayatan dan analisis kami sedang berada di persimpangan jalan.

Rezim otoriter orde baru sungguh menjadikan pendidikan sebagai tempat penyemaian sikap monoloyalitas pada pemerintah yang antikritik. Pencekokan ideologi yang hanya boleh ditafsirkan oleh penguasa menjadi menu utama pada semua jenjang pendidikan dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menjadi ritual wajib yang dipaksakan dan membuat kita secara psikologis muntah-muntah karena bosan, muak dan jengah.

Politisasi pendidikan sangat kental. Daya kritis disamakan dengan subversi, dan pendidikan melulu diarahkan pada keterampilan teknis dan kehilangan dimensi kebudayaan dan kemanusiaan. Keprihatinan inilah yang menbuat kami sangat berkeinginan untuk membincangkan topik ini dan mencarirumuskan jalan-jalan baru sebagai alternan bagi beragam masalah akut ini.

Kami ingin mengumpulkan sejumlah cendekiawan kritis di kampus IKIP Jakarta untuk membincangkan topik ini. Harus ada seorang pembicara berkaliber yang daya gaungnya harus sangat luar biasa. Kami semua sepakat untuk memilih Soedjatmoko yang baru pulang dari luar negeri sebagai pembicara kunci.

Kami adalah generasi yang tak pernah berhubungan dengannya, meski getol membaca tulisan-tulisannya yang bernas dan cergas. Jadi dibutuhkan usaha keras untuk bisa malkukan komunikasi dan membangun saling pemahaman.

Ibu Conny R. Semiawan menjembatani hubungan kami. Dalam jumlah yang cukup besar kami menyambangi rumahnya di Jl. Tanjung. Karena aku ketua panitia pengarah, maka waktu berkomunikasi dengannya menjadi sangat banyak dan intens. Di luar dugaanku, ia rupanya ingin mendengar banyak hal tentang perkembangan pendidikan di tanah air.

Beberapa kali ia memanggilku ke rumahnya untuk menjelaskan perkembangan praktik-praktik nyata proses pendidikan yang sesungguhnya di lapangan, pada semua tingkat. Ia memintaku untuk mencerikatakan apa saja yang menjadi anomali dalam sistem pendidikan kita. Apa yang menjadi persoalan pokok dan berapa akut masalahnya. Rupanya ia telah menyiapkan sejumlah pertanyaan. Aku sepenuhnya sadar, orang sekaliber dia pastilah tahu banyak hal. Namun, kehendaknya untuk mendengarkan, bagiku merupakan suatu anugerah besar.

Kesempatan ini sungguh sangat luar biasa bagiku, karena mendapat kesempatan menjadi murid dari seorang cendekiawan berkaliber internasional. Seorang cendekiawan yang mampu merubah pandangan pesimis Club Of Rome yang mempopulerkan gagasan batas-batas pertumbuhan.

Caranya berbicara dan mendengarkanku dan sejumlah teman yang kubawa ke rumahnya untuk berdiskusi sungguh sangat membangun semangat dan perhomatan. Ia seorang pendengar yang empatis dan sangat sabar. Seringkali ia mengubah posisi duduknya untuk mendengarkan lebih tekun uraian kami. Dan yang sangat mengagumkan adalah ia mencatat sejumlah hal yang kami katakan. Ia kemudian bertanya lebih dalam tentang beberapa hal yang memang sangat menarik untuk dibicarakan.

Ia mengajakku untuk menemaninya memenuhi undangan ke sejumlah tempat di Jakarta. Waktu itu ia memang diundang ke banyak tempat untuk berbicara, dengan topik-topik yang sangat beragam. Ia tidak pernah berbicara tanpa makalah, dan mengetik sendiri semua makalahnya.

Bila berbicara, konstruksi fikirnya sangat terstruktur dan bahasanya sungguh teratur, benar-benar seperti tulisan yang tertata dengan baik. Ia sangat kalem dan jernih saat menjelasuraikan pandangan-pandangannya. Ia selalu berhasil menemurumuskan persoalan-persoalan pokok dari sesuatu masalah dan mampu memberikan sudut pandang yang sama sekali berbeda dengan pandangan kebanyakan orang.

Setiap kali para partisipan berbicara, ia dengan sabar dan penuh perhatian mendengar dan memberi apresiasi. Ia tak pernah menunjukkan raut wajah yang kurang menyenangkan saat pandangannya dipersoalkan dan diserang. Ia juga tak pernah menunjukkan sikap dan ucapan negatif terhadap para pengeritiknya yang tampak sekali menilai fikiran-fikirannya secara parsial.

Ia bersedia berbicara dengan siapa pun, dengan topik apapun. Apapun topik yang dibicarakan ia selalu menunjukkan apa yang menjadi fokus dan keprihatinannya. Baginya pembelaan terhadap marbatat manusia, dan perjuangan habis-habisan bagi emansipasi orang miskin dan penegakan keadilan adalah perjuangan yang harus terus diupayakan tanpa mengenal lelah. Pandangan-pandangannya sangat visioner, seringkali melampaui zamannya. Sungguh cakrawala pemikirannya bagai pelangi dilangit biru. Sangat berwarna, indah, dan luas. Ia sungguh pelintas batas yang tidak pernah terperangkap dalam spesialisasi yang sempit dan kaku. Ia seorang pendakwah kebebasan, martabat, dan kesetaraan manusia. Baginya pembangunan dan semua upaya yang tidak menghormati dan memekarkan kebebasan, martabat, dan kesetaraan manusia adalah sebentuk kezhaliman.

Saat aku kemukakan niat menulis pemikiran-pemikirannya bagi tema skripsiku, ia tersenyum dan menganggapku terlalu serius. Aku bersyukur bahwa aku berhasil mewujudkan niat itu, dan atas inisiatif Yayasan Soedjatmoko dan Gramedia, skripsi itu diterbitkan sebagai buku dengan judul Pemikiran Soedjatmoko tentang Kebebasan.

Pergaulan, komunikasi, dan interaksiku dengannya sangat bermakna bagiku. Aku sungguh belajar tentang kecanggihan berfikir, kekuatan dan kelurusan argumentasi, dan kerendahan hati seorang begawan.

KERENDAHAN HATI ADALAH CERMIN KEMATANGAN.

2 komentar:

  1. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Maikin berisi padi maka akan semakin merunduk, saya rasa pepatah lama ini patut disematkan bagi bapak Soedjatmoko ini. Karena sering kali banyak orang hebat menyombongkan dirinya, merasa bahwa apa yang diperbuatnya melebihi orang-orang pada umumnya. Bukan hal yang mudah untuk bisa rendah hati seperti itu. Berpikir kritis juga agak sulit untuk memulainya karena pada dasarnya pemikiran kritis timbul dari sikap ketidakpuasaan dan keingintahuan yang menggebu. Kadang setiap orang takut untuk berfikiran berbeda dengan yang lainnya, apalagi mengungkapkan aspirasi yang ada. Hal ini terjadi karena kita cenderung mengikuti pola yang ada dan tidak berani untuk melakukan perubahan.
    pertanyaan
    1. Bagimana cara menumbuhkan sikap kritis?
    2. Apa yang membuat seseorang berani untuk mengungkapkan aspirasinya?

    BalasHapus
  2. Bagaimana caranya saya hendak mendapat buku-buku Dr.Soedjatmoko? Saya tinggal di Malaysia.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd