Ada
yang berubah dengan kondom. Dulu kondom dikenal sebagai alat kontrasepsi yang
dikaitkan dengan program Keluarga Berencana, dibagikan secara sangat terbatas
oleh para penyuluh dan tidak mudah didapatkan. Kondom hanya dijual di apotik,
kebanyakan orang, terutama kaum pria, malu-malu atau bahkan malu membelinya.
Membeli kondom sungguh membuat tak sedap hati, sampai-sampai tak kuat menatap
wajah pegawai apotik yang menjualnya. Menyebutkan kata kondom pun rasanya tak
pantas, karena itu para pembeli tak pernah menyebut kondom, tetapi karet. Tentu saja maksudnya
bukan karet gelang. Masak sih harus diikat pake karet gelang.
Kini
sangat mudah mendapatkan kondom, semudah membeli permen. Di mini market kondom
diletakkan dekat permen di depan kasir. Memang sengaja dibuat begitu untuk
memudahkan. Sambil membayar, kondom bisa ditambahkan pada belanjaan yang
tinggal dibayar. Praktis dan mudah. Di
tukang rokok pinggir jalan kondom juga ditampilkan bersama permen. Akhirnya
kondom semakin mendekati permen. Kemasannya dibuat penuh warna dalam
kotak-kotak kecil seperti layaknya kotak permen. Dan aromanya juga seperti
permen, yang paling disukai adalah aroma stroberry. Karena kini yang lagi tren
adalah permen jahe, tidak usah kaget jika akan ada kondom jahe. Agak hangat dan
pedes, jadi lebih nendang.
Mengikuti
perkembangan teknologi digital bisa jadi setelah i-pod, i-phone, dan i-pad,
akan muncul, i-condom. Kondom dengan remote control dan bisa diisi ulang.
Kondom
memang ada hubungannya dengan keintiman. Rasanya belum ada orang yang berani
membeli kondom dan menjadikannya balon hiasan perayaan ulang tahun. Keintiman
itu menunjukkan nilai rasa dan emosi. Dalam kaitan ini pantas untuk mencoba
menciptakan kondom batik. Siapa tahu yang menggunakannya akan merasakan
semangat keindonesiaan yang khas, semacam nasionalisme dan rasa cinta Indonesia
yang langsung dihayati dengan makk nyess...
mantaps pak
BalasHapus